PASTIKAN NIKAH ANDA TERCATAT DI KUA , NIKAH DI KUA GRATIS ... , NIKAH DILUAR KANTOR BAYAR Rp. 600.000,- ( DISETOR LANGSUNG KE BANK ) LAYANAN KUA GRATIS ( LEGALISIR, REKOMENDASI, IKRAR WAKAF, DUPLIKAT, KONSELING DAN BIMBINGAN KEAGAMAAN ) # SMS CENTER 081228249995 #

Berita Terbaru

Showing posts with label Khutbah Jum'ah. Show all posts
Showing posts with label Khutbah Jum'ah. Show all posts

Meraih Malam Lailatul Qodar

Written By Unknown on Tuesday, July 14, 2015 | 10:30 AM

Hasil gambar untuk malam lailatul qadar

الحَمْدُ لِلهِ مُقَدِّرِ الْمَقْدُوْرِ وَمُصَرِّفِ اْلأَيَّامِ وَالشُّهُوْرِ، وَأَحْمَدُهُ عَلَى جَزِيْلِ نِعَمِهِ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الشَّكُوْرُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا إِلَى الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ، أَمَّا بَعْدُ: فَأُوْصِيْكُمْ-أَيُّهَا النَّاسُ-وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَاتَّقُوْا اللهَ رَحِمَكُمُ اللهُ فَبِهَا الْفَلاَحُ وَالسَّعَادَةُ وَالنَّجَاحُ

Hadirin Rahimmakummullah ..

Pertama-tama marilah kita senantiasa memanjatkan rasa tasyakur kita ke hadirat Alloh SWT, atas segala hidayah dan ma’unahNya kepada kita sekalian, hingga kita secara sadar berkemauan untuk menjalankan kewajiban kita kepadaNya.

Melalui momentum ibadah shalat jum’ah, di bulan suci ramadhan ini, mari kita bersama-sama untuk meneguhkan kembali rasa ketakwaan kita kepada Alloh SWT.
Marilah kita berupaya memerdekakan diri kembali dari segala keterlanjuran kita, membiarkan diri disibukkan  oleh entah apa saja selain Allah Azza Wa jalla.

Mungkin kita telah
disibukkan oleh jabatan – pekerjaan , kita melakukan apa saja untuk jabatan, hingga kita lupa akan Alloh SWT. Mungkin kita telah disibukkan  oleh harta benda, hingga kita melakukan apa saja untuk harta benda dan melupakan Alloh SWT. Kesibukan – kesibukan  inilah yang terkadang membuat kita melakukan sesuatu yang memiliki dampak / akibat tidak saja melupakan pesan-pesan Alloh sang Maha Pencipta, namun juga mungkin merusak keharmonisan alam sekitar. Sekali lagi, marilah kita memperbaharui komitmen ketakwaan kita kepada Alloh swt, dengan selalu mengorientasikan segala perilaku kita atas dasar perintah dan larangan Alloh SWT. Mudah-mudahan hingga saatnya Alloh SWT berkenan memanggil kita, kita dalam kondisi tetap mengingat Alloh dengan berpegang teguh pada ketakwaan ini.

Hadirin sidang jum’ah yang mulia

Bulan puasa, bagi umat islam adalah bulan yang amat berharga bagi pembentukan kesucian rohani kita. Banyak media informasi yang yang berbicara tentang kelebihan
- kelebihan bulan ini.jika kita sekedar menggali berbagai fadlilah di bulan ini, nampaknya tidak begitu sulit. Tentunya bagi orang yang mendapatkan hidayah dari Alloh, segala informasi yang masuk ke telinga kita , semestinya akan semakin menambah kedekatan dan ketakwaan kita pada Alloh SWT. Namun sebaliknya, bagi orang yang tidak mendapatkan hidayah, sekian banyak informasi yang masuk ke telinga mereka, seolah hanya suara kosong yang tanpa makna. Mereka tidak dapat mengambil fadlillah yang ada di bulan suci ini, mereka pun masih  tetap melakukan berbagai perilaku buruk, kemaksiatan dan mereka pun semakin jauh dari Alloh.
Naudlu billah min dzalik.

Kita telah mafhum, bahwa di bulan suci romadhon ini Alloh telah menetapkan sebuah malam yang memiliki  keutamaan luar biasa yaitu Lailatul Qadar. Malam itu, menurut mustafa al-maraghi dalam tafsirnya disebut sebagai malam turunnya Al-Qur’an pertama kali sebelum kemudian turun berangsur-angsur selama kurang lebih dua puluh tiga tahun.
Adapun maksud dari malam yang diberkahi ialah malam al-Qur’an pertama kali diturunkan, sebagaimana pendapat imam musthofa al- maroghi. Di Indonesia umumnya dianggap jatuh pada tanggal 17 Ramadhan.

Syaikh Ali Ahmad Al-Jurjawi, mencatat seputar perbedaan pendapat malam Lailatul qadar. Menurutnya, ada sebagian ulama berpendapat bahwa, Lailatul qadar terjadi di salah satu malam dari bulan Ramadhan (antara tanggal 1-30 Ramadhan).
Pendapat ini mendasarkan pada kenyataan, tidak ada keterangan yang sharih terhadap tanggal terjadinya Lailatul Qadar. Sebagian lagi berpendapat bahwa Lailatul Qadar terjadi di 10 hari terakhir pada malam  ganjil di bulan Ramadhan. Meskipun tidak ada keterangan yang sharih tentang waktu terjadinya malam tersebut, namun Rasulullah SAW pernah memerintahkan kepada sahabat untuk lebi serius  melakukan peribadahan di malam-malam sepuluh terakhir  pada bulan Ramadhan,khususnya di malam ganjil. Dan para sahabatpun berduyun-duyun untuk melakukan anjuran Rasulullah Saw itu.

Begitu beragamnya pendapat tentang terjadinya lailatul qadar tidak perlu di perdebatkan. Tapi yang penting bagaimana kita mempersiapkan diri untuk mengapai / menyongsong kebaikan-kebaikan yang terdapat pada malam lailatul qadar tersebut.  Yaitu dengan memperbanyak membaca Al quran, sedekah, mendirikan shalat-shalat sunnah, mengajak anggota keluarga , istri dan anak – anak untuk melaksanakan ( qiyamul lail )  serta amalan – amalan sholeh lainya.

Oleh karena itu, semestinya setiap orang berusaha meningkatkan amal ibadahnya, lebih-lebih pada sepuluh hari yang terakhir. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana dalam hadits,

أَنَّ النَّبِيَّ صل الله عليه وسلم كَانَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh hari yang terakhir tidak seperti pada hari-hari yang lainnya.” (HR. Muslim)

Disebut malam  lailatul qadar dikarenakan Malam yang penuh dengan kebaikan bagi orang-orang yang mengisinya dengan ketaatan. Pada malam itu para malaikat termasuk malaikat Jibril turun ke bumi, untuk menghampiri dan mengucapkan salam kepada hamba - hamba Allah yang sedang beribadah. Pada malam itu, pintu-pintu langit dibuka dan Allah SWT menerima taubat hamba - Nya”, sepanjang malam itu tersebar keselamatan bagi penduduk bumi hingga terbit fajar.
Dan amalan seseorang di malam tersebut setara dengan amalan yang dilakukan seribu bulan  ( 83 Th ). Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

!$¯RÎ) çm»oYø9tRr& Îû Ï's#øs9 Íôs)ø9$# ÇÊÈ   !$tBur y71u÷Šr& $tB ä's#øs9 Íôs)ø9$# ÇËÈ   ä's#øs9 Íôs)ø9$# ׎öy{ ô`ÏiB É#ø9r& 9öky­ ÇÌÈ   ãA¨t\s? èps3Í´¯»n=yJø9$# ßyr9$#ur $pkŽÏù ÈbøŒÎ*Î/ NÍkÍh5u `ÏiB Èe@ä. 9öDr& ÇÍÈ   íO»n=y }Ïd 4Ó®Lym Æìn=ôÜtB ̍ôfxÿø9$# ÇÎÈ 
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malamkemuliaan. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu.malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan
pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.

Hadirin Rahimmakummullah ..

Maha suci Allah, Lailatul Qodar memang sungguh mulia. Wajar bila kedatangannya begitu didambakan setiap Muslim, namun Allah dan Rasul-Nya tidak menentukan kapan malam mulia itu, sehingga upaya ‘mendapatkan / meraihnya’ Lailatul Qodar di bulan Ramadhan menjadi fenomena tersendiri di kalangan umat Islam.

Sungguh beruntung orang-orang yang bisa memanfaatkan kesempatan yang mulia ini dengan berbagai amal saleh. Ia bisa meraih keuntungan yang berlipat-lipat.

Sungguh, kerugian yang besar bagi orang-orang yang tetap di atas kemaksiatan - kemaksiatannya selama bulan Ramadhan. Sebab, kemaksiatan di bulan Ramadhan yang mulia tidak sama dengan kemaksiatan yang dilakukan di luar Ramadhan, meskipun kemaksiatan tidak boleh dilakukan kapan pun dan di bulan apa pun. Hanya saja, kemaksiatan di bulan ini menunjukkan ketidakpedulian seseorang terhadap dirinya dan jeleknya akhlak orang yang melakukannya.

Oleh karena itu, marilah kita jadikan bulan yang mulia ini sebagai saat untuk bertobat kepada Allah Subhanahu wata’ala , mumpung Allah senantiasa membuka lebar – lebar pintu rahmah dan maghfirohnya dan kita memulai lembaran baru dengan amalan-amalan saleh dan ketakwaan kepada-Nya.
Ingatlah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Sangatlah merugi orang yang berjumpa dengan bulan Ramadhan, namun berpisah sebelum diampuni dosa-dosanya.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, beliau mengatakan, “Hadits hasan gharib.”)

Hadirin sekalian rahimmakumullah,,

Jika kita menyimak catatan imam
Syaikh Ali Ahmad Al-Jurjawi tersebut, tentunya patut ditelusuri lebih lanjut, mengapa lailatul Qadar tidak di informasikan oleh Alloh secara sharih. Seolah-olah Allah SWT telah merahasiakan malam yang penuh berkah ini, hingga umat muslim tidak dapat dengan mudah mendapatkan kemuliaan malam ini. Justru karena kerahasiaannya itulah, malam Lailatul Qadar selalu menarik untuk diwacanakan.

Diantara hikmah dari kerahasiaan ini  dimaksudkan agar manusia bersungguh-sungguh   melakukan ibadah kepada Alloh SWT. Kesungguhan beribadah yang di realisasikan tidak hanya pada saat-saat tertentu, namun juga direalisasikan sepanjang hayatnya. Sehingga manusia dapat memelihara istiqamahnya dalam melakukan pengabdian kepada Alloh SWT. Ini berbeda dengan, jika Lailatul Qadar ditentukan pada hari – tgl tertentu. Manusia akan mudah terlepas  dari istiqamahnya dalam beribadah. Pemeliharaan istiqamah dalam beribadah ini menjadi penting, mengingat, bahwa keimanan manusia sangat fluktuatif / naik turun. Suatu saat mungkin keimanan kita dalam kondisi prima, hingga mereka gampang mengingat Alloh, namun pada waktu yang lain mungkin keimanan kita dalam kondisi buruk, hingga mereka melupakan Alloh SWT. Dalam kondisi seperti inilah, diperlukan upaya yang sungguh-sungguh agar keimanan kita tetap prima.

Hadirin sekalian Rahimmamukullah.

Salah satu bentuk ekspresi syukur atas pelaksanaan puasa ramadan adalah tidak terjadinya kemandekan amal setelahnya, karena memang bulan Ramadhan memiliki keterkaitan erat dengan bulan syawwal. Hal ini bisa dibuktikan dengan anjuran menyusuli puasa Ramadhan dengan puasa enam hari dibulan syawwal, artinya selepas bulan Ramadhan sebisa mungkin amal ibadah seseorang harus lebih ditingkatkan . Jika bulan Ramadhan merupakan bulan pembakaran / penggemblengan , maka bulan syawwal nanti adalah bulan peningkatan amal sebagaimana makna harfiahnya masing – masing.

Keterputusan amal ibadah bersamaan dengan berlalunya bulan Ramadhan harus benar – benar dihindari  karena sebaik amal adalah amal yang sambung menyambung dan tidak berhenti ditengah jalan hingga datang saat kematian.

Hadirin rahimakumullah,

Pada akhir bulan Ramadhan ini juga ada kewajiban besar yang harus diperhatikan oleh kita semua, yaitu kewajiban mengeluarkan zakat fitrah. Zakat ini berupa makanan pokok sebanyak satu sha’ atau sekitar tiga kilogram, diberikan kepada yang berhak menerimanya sebelum shalat ‘ied dilaksanakan. Disebutkan dalam hadits dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu :

كُنَّا نُخْرِجُ إِذْ كَانَ فِينَا رَسُولُ اللهِ صل الله عليه وسلم زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ كُلِّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ، حُرٍّ أَوْ مَمْلُوكٍ، صَاعًا مِنْ طَعَامٍ

“Dahulu di saat Rasulullah bersama kami, kami mengeluarkan zakat fitrah atas anak kecil maupun orang dewasa, baik yang merdeka maupun budak, sejumlah satu sha’ dari makanan (pokok).” (HR. Muslim)

Hadirin rahimakumullah

Kita mungkin tidak sehebat dan sebaik para sahabat – sahabat Nabi yang selalu  bersedih dan menangis dikala bulan suci Ramadan berakhir, namun selayaknya kita pun patut takut sebab tak ada jaminan , apakah amal ibadah kita  selama 23 hari ini diterima oleh Allah. Begitu pula tak ada jaminan pula, apakah kita bisa  dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan. Untuk itu di akhir Ramadhan ini ,mari kita memperbaiki diri dan meningkatkan amal ibadah kita serta berdo’a dengan sungguh – sungguh kepada Allah SWT, Semoga kita semua termasuk orang - orang yang  amal ibadah selama bulan Ramadhan ini , diterima sebagai amalan sholihan maqbulan dan mendapatkan keberkahan lailatul qodar, amin, amin ya rabbal alamin

اقــول قـولي هذا واســتغـفـرالله لي ولكم ولجميـع المســلمين والمســلمات انه هــو الـغـفـور الـرحيـم


______________________________________________________________
Written : H. Abdullah Najib

5 Sifat Yang Merusak Manusia

Written By Unknown on Thursday, April 30, 2015 | 5:38 AM

Hasil gambar untuk 5 Sifat Yang Merusak Manusia

Iلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ مَنْ تَوَكَّلَ عَلَيْهِ بِصِدْقِ نِيَّةٍ كَفَاهُ وَمَنْ تَوَسَّلَ إِلَيْهِ بِاتِّبَاعِ شَرِيْعَتِهِ قَرَّبَهُ وَأَدْنَاهُ وَمَنِ اسْتَنْصَرَهُ عَلَى أَعْدَائِهِ وَحَسَدَتِهِ نَصَرَهُ وَتَوَلاَّهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ حَافَظَ دِيْنَهُ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ (أَمَّا بَعْدُ) فَقَالَ تَعَالَى وما أمروا الاليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلوة ويؤتوا الزكوة وذلك دين القيمة  

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Tidak henti-hentinya, kami mengajak pada Jamaah sekalian untuk memanjatkan puji syukur yang tiada terhingga kepada Allah SWT, karena Allahlah telah yang memberi kita karunia dan nikmat yang sangat besar. Karunia dan nikmat itu ialah umur yang panjang, kesehatan, dan kesempatan yang lapang sehingga kita semua bisa hadir di sini untuk mendirikan shalat Jumat berjamaah. Karena ada saudara – saudara kita yang juga diberikan Karunia dan nikmat umur yang panjang, kesehatan, tapi tidak ada kesempatan hadir di sini untuk mendirikan shalat Jumat .

Oleh sebab itu , sebagai salah satu bentuk rasa syukur kita terhadap semua nikmat Allah ini tidak bosan-bosannya pula, khatib menyerukan agar tidak ada jemaah yang sampai tertidur atau berbicara satu sama lainnya ketika khutbah Jumat sedang dibacakan, hal ini agar kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran lain yang bermanfaat

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Apa yang hendak saya sampaikan pada khutbah kali ini sebenarnya berasal dari satu pertanyaan asasi. Manakah sebenarnya yang lebih dulu ada di dunia ini, kegegelapan  lantas disusul dengan terang. Ataukah terang yang kemudian dinodai dengan kegegelapan?
Dalam sebuah hadits sahabat Ali Karaamallhu Wajhah berkata :

عَنْ عَلِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَوْلَا خَمْسَ خِصَالٍ لَصَارَ النَّاسُ كُلُّهُمْ صَالِحِيْنَ اَوَّلُهَا اَلْقَنَاعَة ُبِالجَهْلِ وَالْحِرْصُ عَلَى الدُّنْيَا وَالشُّحُّ بِالْفَضْلِ وَالرِّياَ فِى الْعَمَلِ وَالْإعْجَابُ بِالرّأيِ

“andaikan tidak ada lima keburukan didunia ini, tentunya manusia menjadi orang saleh semua. Kelima keburukan itu adalah 1) merasa senang dengan kebodohan. 2) tamak dengan dunia. 3) bakhil dengan kelebihan harta. 4) riya’ dalam beramal dan 5) membanggakan diri”. Demikian keterangan Sayyidina Ali tentang lima hal yang merusak susunan masyarakat muslim sehingga terjebaklah mereka dalam kenistaan.
Pertama, merasa senang dengan kebodohan, artinya adalah membiarkan diri bahkan merasa nyaman dengan ketidak tahuan dalam masalah agama. Sebagaimana banyak terjadi pada muslim masa kini yang tiap harinya disibukkan dengan urusan duniawiyah dan bermacam pekerjaan demi mencapai cita-citanya. Sedangkan masalah ke-islaman cukup dipasrahkan saja kepada para ustadz yang dipanggil ketika dibutuhkan. Entah untuk berdoa, untuk ditanya ataupun sekedar dijadikan teman curhatnya.

Tidak ada dalam dirinya keinginan belajar dengan sungguh-sungguh apa itu Islam dan bagaimana seharusnya menjadi muslim yang baik. Tidak pernah ingin tahu cara shalat dan wudhu yang benar. Mereka sudah puas dengan pengetahuan yang didapatnya dari teman atupun dari meniru tetangga. Paling-paling belajar keislamannya didapat dari tayangan televisi pada kuliah subuh dan dalam broadcast- broadcast semacamnya.
Memang itu tidak salah, tapi semua itu menunjukkan ketidak seriusan keislaman mereka dibandingkan dengan keseriusannya belajar ilmu pengetahuan atupun kesibukannya mengurus berbagai urusan dunia. Padahal Rasulullah saw sudah mengingatkan :

اللهُ يَبْغَضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِاْلأَخِرَةِ  )رواه الحاكم (

Allah membenci orang yang pandai dalam urusan dunia tetapi bodoh dalam urusan akhirat.

Ma’asyiral Mukminin Rahimakumullah

Kedua, tamak dengan dunia dan ketiga bakhil dengan kelebihan harta, keduanya merupakan pasangan yang selalu terkait bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Karena siapapun yang tamak dan merasa kurang dengan berbagai kepemilikan hartanya pastilah dia akan berlaku bakhil dan sangat sayang dengan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya.

Dalam kesempaatan lain Rasulullah saw pernah menyinggung tentang ketamakan. Beliau berkata yang artinya bahwa mencintai harta adalah sumber segala kecelakaan dan keburukan. Baik keburukan fisik maupun mental. Mari kita bersama-sama berintropeksi diri mengapa diri ini seringkali masuk angin gara-gara terlalu sering di jalan demi mengejar satu pekerjaan. Betapa para pebisnis itu sering kali keuar masuk rumah sakit berganti-ganti penyakit karena komplikasi yang disebabkan kurangnya perhatian dalam mengurus diri dan lebih suka mengejar materi. Meskipun ini bukanlah hukum universal yang dapat diterapkan pada semua orang, tetapi minimal menjadi pelajaan bagi kita yang mengerti. Betapa kecintaan dan ketamakan dunia selalu membawa petaka. Rasulullah saw pernah bersabda:

الزّهْدُ فِى الدُّنْيَا يُرِيْحُ الْقَلْبَ وَالبَدَنَ وَالرُّغْبَةُ فِيْهَا تُتْعِبُ اْلقَلبَ وَاْلبَدَنَ  )رواه الطبرانى (
Zuhud (tidak suka) dunia sangat menyenangkan hati dan badan. Sedangkan cinta dunia sangat melelahkan hati dan badan.
Demikianlah bahwa kebakhilan ataupun kepelitan merupakan dampak sistemik yang tidak terhindarkan dari ketamakan dunia. Dan kebakhilan pasti akan menjauhkan seseorang dari Allah, surga dan sesama manusia. Itu artinya kesalehan bagi orang yang bakhil adalah angan-angan belaka. Dan jikalau ada keselahan di sana pastilah itu hanya kesalehan yang semu.
Para Jama’ah yang Dirahmati Allah

Keempat, riya dalam beramal. Riya’ adalah pamer yaitu melakukan satu amal ibadah (agama) dengan maksud mendapatkan pujian dari manusia. Atau dengan bahasa yang agak kasar riya dapat juga dikatakan dengan mengharapkan nilai dunia dengan pekerjaan akhirat. Rasulullah saw menegaskan bahwa riya termasuk dalam kategori syirik kecil (as-syirikul asyghar) dalam salah satu sabdanya “sesungguhnya sesuatu yang sangat saya khawatirkan atas dirimu adalah syirik kecil, yaitu riya” (HR.Ahmad).

Disebut demikian karena perwujudan riya yang sangat halus dan tidak kentara. Adanya hanya dalam hati. Tidak ketahuan di dalam tindakan diri. Para sufi mengibaratkan halusnya riya seperti semut hitam yang merayap di atas batu keras warna hitam di tengah pekat malam. Begitu halusnya riya hingga seringkali mereka yang terjangkit penyakit ini seringkali tidak sadar.
Fudhail bin Iyadh seorang sufi pernah mencoba menjabakan tentang riya dengan bahasa keseharian katanya: ”jika datang seorang pejabat kepadaku, kemudian aku merapikan jenggotku dengan kedua belah tanganku, maka aku benar-benar merasa khawatir kalau dicatat dalam kategori orang-orang munafik”
Demikianlah hendaknya segala apa yang dilakukan manusia disandarkan kepada Allah swt. Tidak hanya semata mempertimbangkan kepentingan manusia. Apalagi jika berhubungan dengan amal ibadah murni seperti shalat, baca al-qur’an, zakat dan lainnya maka Allah swt mengancam mereka yang mendustainya dengan neraka Rasulullah saw bersabda:
اِنَّ اللهَ حَرَّمَ الْجَنَّةَ عَلَى كُلِّ مُرَاءٍ
Sesungguhnya Allah swt mengharamkan surga bagi orang yang riya.
Dan kelima, adalah ujub atau membanggakan diri. Yaitu merasa diri paling sempurna dibandingkan dengan yang lain. Ketidak bolehan perasaan ujub ini dikhawatirkan pada lahirnya kesombongan, dan kesombongan itu sendiri merupakan sifat Allah yang tidak boleh ada dalam diri manusia.
Demikianlah lima hal yang menurut Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah dapat menghalangi seseorang menjadai seorang yang saleh.
Demikianlah khotbah singkat kali ini, semoga hal ini dapat menjadi bahan renungan yang mendalam, bagi kita semua amin.

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

 _______________________________________________________
Written by :  H. Abdu

Matematika Kehidupan

Written By Unknown on Friday, March 27, 2015 | 8:00 AM

Hasil gambar untuk matematika kehidupan

Matematika Kehidupan

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ مَنْ تَوَكَّلَ عَلَيْهِ بِصِدْقِ نِيَّةٍ كَفَاهُ وَمَنْ تَوَسَّلَ إِلَيْهِ بِاتِّبَاعِ شَرِيْعَتِهِ قَرَّبَهُ وَأَدْنَاهُ وَمَنِ اسْتَنْصَرَهُ عَلَى أَعْدَائِهِ وَحَسَدَتِهِ نَصَرَهُ وَتَوَلاَّهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ حَافَظَ دِيْنَهُ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ
Jamaah jum’at rahimakumullah…
Tidak henti-hentinya, kami mengajak pada Jamaah sekalian untuk memanjatkan puji syukur yang tiada terhingga kepada Allah SWT, karena Allahlah telah yang memberi kita karunia dan nikmat yang sangat besar. Karunia dan nikmat itu ialah umur yang panjang, kesehatan, dan kesempatan yang lapang sehingga kita semua bisa hadir di sini untuk mendirikan shalat Jumat berjamaah. Karena ada saudara – saudara kita yang juga diberikan Karunia dan nikmat umur yang panjang, kesehatan, tapi tidak ada kesempatan hadir di sini untuk mendirikan shalat Jumat .
 Oleh sebab itu , sebagai salah satu bentuk rasa syukur kita terhadap semua nikmat Allah ini tidak bosan-bosannya pula, khatib menyerukan agar tidak ada jemaah yang sampai tertidur atau berbicara satu sama lainnya ketika khutbah Jumat sedang dibacakan, hal ini agar kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran lain yang bermanfaat. Rasa kantuk memang merupakan fitrah sebagaimana juga rasa lapar dan dahaga namun seyogyanya semua bentuk kefitrahan ini tidak menjadi penghalang kita dari mendengarkan firman-firman Allah yang akan disampaikan.

Jamaah umat rahimakumullah…
Tidak terasa, baru kemarin saja rasanya  kita melaksanakan sholat jum’ah disini, sekarang kita melaksanakan lagi. Rasa – rasanya waktu begitu cepat berlalu. Jika dalam 1 hari ada 24 jam, maka 7 hari berarti sama dengan 168 jam atau 10.080 menit sudah kita lewati. Subhanallah. Selama masa waktu itu, hal positif apa yang sudah kita lakukan dan hal negatif apa saja yang sudah kita perbuat? Mari kita tanya pada diri kita masing - masing, dalam tempo 7 hari tersebut, manakah yang paling sering kita lakukan, kebaikankah? Atau justru keburukan?
Sekali lagi kita tanya diri kita dan biarkan hati kita yang menjawabnya: benarkah dalam 7 hari yang lalu kita selalu ada dalam keimanan? Konsistenkah kita dalam melakukan keimanan yang sering kita sebut -sebut di mulut kita dan kita pamer - pamerkan pada orang lain itu selama 7 hari yang lalu? Biarkan hati kecil kita yang menjawabnya, berapa kali kita meninggalkan shalat Subuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib ataupun Isya?
Berapa kali dalam waktu 7 hari yang sudah kita lewati itu, kita melakukan shalat dengan rasa malas dan terpaksa? Berapa kali pula dalam waktu 7 hari itu, kita salah dalam membaca tajwid dalam shalat -  shalat kita karena terburu-buru?  Berapa kali  pula dalam waktu 7 hari itu, kita membaca bacaan sholat dengan tartil, tenang dan dihayati?
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah,
itu baru sedikit saja dari sekian banyak pertanyaan yang bisa digali , dalam rangka muhasabah/ introspeksi diri kita untuk 7 hari yang baru saja kita lalui.
Belum lagi mengenai amal shalih, amal shalih apa yang sudah kita perbuat selama seminggu  itu? Benarkah amal shalih atau cuma minta dianggap shaleh atau justru amal sayyiah alias amal buruk saja yang kita perbuat sepanjang 7 hari tersebut?
Bagaimana dengan waktu yang sudah kita habiskan 1 bulan, 1 tahun sebelumnya? Apa saja yang kita perbuat selama tahun – tahun  yang  lalu?

Jamaah jum’at rahimakumullah…
Dalam 1 tahun ada 12 bulan, 52 minggu, 365 hari, 8.760 jam, 525.600 menit dan 31.536.000 detik. Ada berapa banyakkah  total kebaikan yang kita berbuat , selama kurun waktu tersebut?
Rata - rata umur manusia saat ini antara 60 s/d 70 tahun, Jikapun ada yang lebih dari itu maka merupakan suatu bonus umur dari Allah.  Sekarang kita samakan saja rata - rata umur manusia di usia 65 tahun.
Kita mulai baligh, yaitu awal dari seorang anak manusia mulai di perhitungkan amal baik atau buruknya selama hidup umumnya bagi laki-laki  adalah 15 tahun dan wanita 12 tahun.
Sekarang, mari kita mencari waktu yang ada atau tersisa bagi kita untuk beribadah pada Allah. Kita gunakan saja rumus sederhana : Umur rata - rata manusia – Awal Baligh
Jika rata-rata umur seseorang pada usia 65 tahun dikurang 15 tahun saat awal kita baligh maka waktu yang tersisa adalah 50 tahun. Apa dan bagaimana perilaku kita selama 50 tahun masa hidup itu?
Jika kita kalikan lagi angka 50 tahun dengan 365 hari/ tahunnya maka diperoleh angka 18.250 hari. Nah angka 18.250 hari ini dikurang dengan waktu tidur kita selama 8 jam/ hari anggap saja begitu. Maka 18.250 hari dikali dengan 8 jam = 146.000 jam atau sekitar 16 tahun lebih 7 bulan atau kita bulatkan menjadi 17 tahun.
Jadi dalam rentang waktu kita mulai baligh di usia 15 tahun sampai usia kita meninggal di 65 tahun, ada waktu 17 tahun yang hanya digunakan untuk tidur saja. Angka ini belum ditambah dengan jumlah jam yang sering kita pakai pula untuk tidur siang misalnya. Subhanallah.
Dalam 50 tahun waktu hidup kita pasca baligh yang habis dipakai aktivitas adalah 18.250 hari x 12 jam (yaitu waktu di mana siang hari biasanya kita kerja, sekolah, kuliah, berdagang, memasak dan sebagainya) maka diperoleh angka 219.000 Jam atau = 25 tahun
Belum lagi dikurangi dengan waktu kita yang biasanya digunakan untuk bersantai, istirahat sambil menonton televisi, bercanda sesama teman dan sejenisnya  plus minus 4 jam.
Maka total dalam 50 tahun waktu yang dipakai untuk santai - santai tadi adalah 18.250 hari x 4 jam= 73.000 Jam atau selama  8 tahun.

Alhasil, jamaah Jumat sekalian, selama 50 tahun masa hidup kita pasca baligh, ada angka 17 tahun lamanya kita tidur  + 25 tahun untuk beraktivitas di siang hari + 8 tahun untuk sekedar rileksasi / santai - santai dan mencari hiburan,  diperolehlah angka 50 tahun.
Jadi umur kita 50 tahun setelah dipotong masa baligh impas saja. Lalu jika usia 50 tahun ini tidak diisi dengan banyak hal yang positif, hal-hal yang bersifat ibadah pada Allah, maka manusia benar-benar berada dalam kerugian yang sangat besar seperti firman Allah di dalam surat Al-Ashr.

وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Allah bersumpah Demi waktu, sesungguhnya, manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran(Al-Ashr: 1-3)

Jamaah jum’at rahimakumullah…
Subhanallah,  ternyata firman Allah bisa dibuktikan secara matematika dan Sangat ilmiah sekali.
Tidak salah sebenarnya ketika kita berargumen bahwa kita saat ini sedang sekolah dan mencari ilmu, bukankah itu juga ibadah? Tidak salah pula ketika ada yang berkata kita bekerja untuk menafkahi anak istri dan ini pun ibadah. Dan argumen-argumen lain sejenis itu.
Tapi sekarang, apakah benar niat kita ketika sekolah / tholabul ilmi, bekerja, mengajar dan melakukan berbagai profesi lainnya itu sudah diniatkan untuk ibadah ?
Bukankah kita sendiri sering berkata: saya sekolah / tholabul ilmi agar pintar, dapat ijazah dengan angka yang bagus, lalu saya bisa bekerja dan dapat posisi bagus pula di perusahaan tertentu, Nikah punya anak cucu. Bukankah niat seperti ini yang justru sering terlintas dalam pikiran kita?
Mana niat ibadahnya? Makanya, tidak usah heran bila sekarang ini banyak terjadi korupsi / penyalahgunaan wewenang di mana-mana, penggunaan narkoba oleh siapa saja serta hal-hal buruk lainnya. Tontonan jadi tuntunan dan tuntunan jadi tontonan. Niat kita sudah bukan pada titik ibadah lagi. Kita sekolah untuk dapat ijazah, kita bekerja untuk mencari harta, kita mempunyai  jabatan untuk dipandang orang lain, kita memakai kendaraan agar dihormati oleh orang lain dan bahkan kita shalat, zakat serta berhaji pun agar dianggap orang hebat dan alim.
Na’udzubillahi mindzalik.

Jamaah Jumat rahimakumullah..
Mari kita jujur pada diri kita sendiri, seberapa seringkah kita membaca bismillah saat hendak berangkat kerja / beraktifitas, berjalan menuju sekolah atau pasar?
Jawabnya secara umum pasti kita pernah membaca basmalah di waktu-waktu tersebut, tapi sesekali, tidak setiap kali. Itulah fenomena diri kita sendiri yang selalu dipengaruhi oleh unsur fujuraha, yaitu sifat jahat yang sering mendominasi hidup kita sehari-hari. Sewaktu mendengar ceramah atau khutbah, air mata kita berlinang, tetapi ketika kaki kita melangkah keluar dari tempat ceramah itu, kita silau dengan gemerlapnya dunia.
Maka jangan heran bila musibah  sering melanda negeri kita,. Jangan heran banyak doa-doa kita yang tidak terkabulkan. Jangan heran bila semakin banyak para penyesat bermunculan. Ternyata kita sendiri ikut menjadi penyebabnya. Kita sering lalai dalam menggunakan waktu yang ada.
Seringkali kita merasa cukup dengan hanya mengerjakan shalat 5 waktu, kita beranggapan dengan mengerjakan shalat - shalat tersebut maka pahala kita bertumpuk. Pernahkah kita berpikir bahwa shalat yang sudah kita kerjakan pasti diterima di sisi Allah?  Pernahkah kita berpikir bagaimana bila shalat -shalat kita selama ini tidak satupun yang diterima-Nya?
Sekali lagi, sudah berapa kalikah kita shalat secara terburu - buru sehingga tidak jelas apa yang dibaca? Berapa seringkah kita shalat diakhir waktu?  Padahal diawal waktu panggilan Allah lewat adzan selalu memanggil kita . Berapa seringkah kita shalat dengan rasa malas, ujub ataupun terpaksa ?

Jamaah Jumat rahimakumullah..
Karena itu, marilah kita semua tanpa kecuali menghitung diri ( bermuhasabah ). Sudah seberapa taatkah kita kepada Allah? Apakah kita selama ini telah mentati aturan - aturan Allah? Ataukah sebaliknya kita gemar menerjang larangan - larangan-Nya?
Marilah kita semua kembali kepada Allah, bertaubat kepada-Nya. Marilah kita sesali segala perbuatan buruk yang selama ini kita lakukan, dan kita berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Jangan sampai kita malah berbuat sebaliknya, yakni melakukan kesalahan demi kesalahan tanpa henti, seolah-olah tidak peka dengan peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Diakhir khutbah ini , marilah kita memohon kepada Allah, semoga Allah selalu membimbing kita dalam jalan yang diridho’i sebagaimana jalannya orang – orang yang sholeh.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .
___________________________________________________
Written by : H. Abdullah Najib
 
Support : Privacy Policy | Disclaimer | Contact
Copyright © 2014. Kua Kecamatan Limpung - Batang - All Rights Reserved
Jl.Limpung-Tersono KM.01 telp (0285) 4486533 Batang 51271
KUA Limpung