PASTIKAN NIKAH ANDA TERCATAT DI KUA , NIKAH DI KUA GRATIS ... , NIKAH DILUAR KANTOR BAYAR Rp. 600.000,- ( DISETOR LANGSUNG KE BANK ) LAYANAN KUA GRATIS ( LEGALISIR, REKOMENDASI, IKRAR WAKAF, DUPLIKAT, KONSELING DAN BIMBINGAN KEAGAMAAN ) # SMS CENTER 081228249995 #

Berita Terbaru

Showing posts with label Tadzkiroh. Show all posts
Showing posts with label Tadzkiroh. Show all posts

Pasca Puasa Ramadhan

Written By Unknown on Thursday, July 2, 2015 | 9:20 AM

Hasil gambar untuk puasa ramadhan 2015

[ Opini ] Puasa Pasca Puasa

Ramadhan (Puasa) sudah memasuki hari kelima belas. Tidak lama lagi, bulan yang sangat istimewa ini pun akan segera kita tinggalkan. Banyak orang menangisi kepergiannya. Sebagian ulama berpendapat, tangisan itu terjadi karena bulan tersebut adalah bulan agung (syahr ‘adzim), bulan mulia (syahr ‘aly), bulan penuh berkah (syahr mubarak), bulan pengampunan (syahr maghfirah), bulan penuh rahmat (syahr rahmah), dan bulan pembebasan dari api neraka (syahr itqun min al-naar).
Sementara sebagian ulama yang lain berpendapat, kepergiannya sangatlah ditangisi karena di bulan tersebut semua amal ibadah diterima, pahala dilipat-gandakan, dosa-dosa dilebur, gerbang-gerbang surga dibuka lebar, pintu-pintu neraka ditutup rapat, dan setan-setan diikat. Juga di bulan ini pula, ada satu malam yang disebut lailatul qadar, yang keutamaannya melebihi seribu bulan (QS. 97: 1-5).

Di luar itu, berakhirnya bulan ini juga banyak ditangisi orang karena  spirit pembebasan yang dibawanya. Spirit ini tercermin dalam perintah menjalankan puasa (QS. 2: 183), yaitu menahan diri (imsak) dari lapar dan dorongan nafsu (lapar bawah perut). Kedua kelaparan ini harus ditahan karena dari keduanya dunia ini seringkali kacau. 

Karena alasan lapar, orang sering melakukan tindakan gelap mata. Ia tidak bisa lagi melihat dan membedakan kebaikan sebagai kebaikan, kebenaran sebagai kebenaran, dan kemuliaan sebagai kemuliaan. Juga karena alasan lapar, orang sering melakukan tindakan-tindakan yang anarkis, pencurian, bahkan melacurkan diri semisal menjadi WTS. Dengan berpuasa, seseorang dilatih untuk tidak  menjadikan lapar sebagai justifikasi terhadap pelanggaran-pelanggaran moral dan hukum. 
Dengan pengendalian nafsu, manusia dibebaskan dari kungkungan hawa nafsunya sendiri. Hal ini tak lain karena dalam diri setiap manusia dipancarkan dua sinar kendali, fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha, yakni kendali negatif (fujur) dan kendali positif (taqwa) (QS.91: 8).
Manusia yang dikendalikan oleh fujur-nya, hedonismenya, dia akan terkondisikan menjadi orang yang terbiasa melakukan pelanggaran nilai-nilai kebaikan dan moralitas. Begitu juga sebaliknya. Untuk itu, pembebasan dalam konteks ini harus diartikan sebagai pembebasan diri manusia dari kendali dan hegemoni nafsu fujur. Karena ketika fujur bisa dikendalikan, maka yang kemudian terpancar adalah kendali taqwa, sebagaimana tujuan akhir dari perintah puasa ini, la’allakum tattaquun (agar kamu menjadi orang yang bertakwa).

Struktur Pembebasan

Apakah setelah Ramadhan berlalu, manusia mampu keluar dari keadaannya semula? Apakah spirit pembebasan yang terpancarkan dari ajaran puasa bisa tertanam tidak hanya pada bulan Ramadhan saja, tetapi juga sebelas bulan setelahnya? Juga bagaimana caranya agar nafsu fujur yang selama sebulan bisa dikendalikan, sebelas bulan berikutnya tetap bisa dikendalikan?
Ada dua hal yang bisa dilakukan supaya spirit pembebasan ini bisa tetap muncul. Pertama, merevitalisasi pemahaman keagamaan yang simbolistik. Bahwa ritual keagamaan bukanlah puncak dari ekspresi keberagamaan, tetapi hanyalah ‘media’ penghayatan iman. Ia sangat berbeda dengan ‘pengamalan’ iman itu sendiri.

Usaha semacam ini akan membantu seseorang untuk tidak hanya berbicara tentang technical ritualistic saja, semisal apa syarat-rukunnya puasa, hal-hal apa saja yang membatalkan puasa, kapan dan bagaimana niat puasa diucapkan, tetapi lebih kepada, apa yang mesti dilakukan setelah orang menjalani puasa (post ritual). Apakah orang yang berpuasa akan bertindak sama buruknya dengan ketika ia belum berpuasa, ataukah sebaliknya.?
Kedua, menstrukturisasi kesadaran keagamaan dari yang sifatnya personal ke kesadaran yang sifatnya sosial. Puasa yang pada awalnya adalah momen pembebasan diri sendiri (even personal), harus diwujudkan dalam tatanan masyarakat yang lebih luas. Artinya, puasa personal yang dilakukan pada bulan puasa harus diimplementasikan ke dalam puasa sosial, puasa yang distrukturkan dalam tatanan masyarakat agar orang menghormati yang lain, supaya orang dapat mengendalikan nafsu fujur-nya, supaya orang memiliki komitmen untuk selalu mengulurkan tangan untuk umat yang lemah, dan seterusnya.

Strukturisasi kesadaran ini penting karena ajaran-ajaran agama yang bersifat personal, akan mempunyai dampak sosial yang nyata. Bukankah peristiwa-peristiwa sosial pangkalnya adalah perkara-perkara personal? Juga kesalahan kolektif, bukankah terjadi karena kesalahan-kesalahan personal? Pendeknya, puasa yang ritual adalah puasa yang dijalani selama bulan Ramadhan, tetapi puasa yang aktual adalah sebelas bulan sesudahnya. (Masdar F. Mas’udi: 2002)

Ritual Tanpa Bekas?

Inilah tantangan yang mesti kita hadapi bersama. Puasa yang kita lakukan selama bulan Ramadhan, sampai sekarang ini, ternyata belum mampu mendidik kaum muslim menjadi pribadi-pribadi yang bertaqwa. Mereka ternyata belum mampu menangkap pesan pembebasan yang terkandung dalam ajaran puasa. Mereka masih terjebak pada simbol keagamaan yang ritualistik.
Kenyataan demikian bisa dilihat dari maraknya perilaku yang jauh dari nilai-nilai etis. Orang masih sering tidak bisa menahan diri dari hal-hal yang diharamkan, terlebih yang dihalalkan. Orang masih suka berbohong, meskipun selama sebulan penuh ia ditempa puasa. Orang masih tidak mau berbagi, meski di sekitarnya dijumpai masyarakat yang tidak bisa makan dan hidup dalam kemelaratan.
Parahnya lagi, ada juga orang yang menjadikan puasa Ramadhan hanya sebagai tameng dalam menjalani hidup. Ramadhan dijadikannya sebagai bulan “kepura-puraan”; pura-pura beramal salih dan bersedekah, pura-pura tidak korupsi, pura-pura berbuat baik kepada rakyat miskin, dan kepura-puraan yang lain. Sebelas bulan berikutnya, mereka kembali melakukan tindakan melawan hukum, serta mengeksploitasi masyarakat demi meraih tujuan pribadinya.

Akhirnya, puasa hanyalah ritual rutin yang tidak memberikan dampak apapun bagi perubahan bangsa ini. Sehabis puasa, praktik koruptif kembali terjadi. Orang miskin terus dimiskinkan, meskipun pelaku pemiskinan itu telah menjalani puasa sebulan penuh. Hukum pun hanya berpihak pada orang-orang yang memiliki duit dan akses hokum. Nafsu fujur yang telah berhasil ditaklukkan selama puasa berlangsung, kembali menguasai bahkan seketika Syawal datang.
Jadi, untuk apa sebenarnya kita berpuasa? Benarkah untuk mengubah diri menjadi pribadi yang lebih bertaqwa, atau hanya lantaran tidak enak dengan tetangga? Mampukah kita menangkap pesan pembebasan puasa sebagaimana mestinya, la ‘allakum tattaquun, sehingga berbuah semangat untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, dan menciptakan tata kehidupan yang berkeadilan? Inilah tantangan pasca puasa yang mesti dijawab.!

Muhtadin, Pelaksana pada Sekretariat Ditjen Pendidikan Islam


Hati Berkarat

Written By Unknown on Thursday, April 9, 2015 | 2:30 PM

Hasil gambar untuk agar hati tak berkarat

Agar Hati tidak Berkarat

"Sesungguhnya, hati itu dapat berkarat sebagaimana besi berkarat. Rasulullah SAW lalu ditanya: Apa yang bisa membuat hati agar tidak berkarat? Rasul menjawab: Membaca Alquran dan mengingat kematian." (HR al-Baihaqi).

Ilustrasi dalam hadis tersebut menunjukkan bahwa hati manusia itu potensial menjadi seperti besi yang kemudian berubah menjadi berkarat. Sebelum berkarat, besi itu kuat, tapi ketika sudah berkarat, ia akan berubah menjadi rapuh.

Hati yang berkarat adalah hati yang berpenyakit atau sudah tidak sehat dan kuat. Agar hati tidak berkarat, Rasulullah SAW memberi solusi, yaitu membaca Alquran. Badiuzzaman Said Nursi dalam al-Mu'jizat al-Qur'aniyyah menjelaskan bahwa Alquran adalah Kalam Allah. 

Ia adalah kitab suci yang menebarkan hikmah yang turun dari lingkup nama-Nya yang paling agung. Ia menatap kepada apa yang diliputi Arasy yang paling agung. Jangankan hati yang berkarat! Bebatuan gunung yang kuat dan kokohpun dapat "takluk dan tunduk" kepada Alqur dan sekiranya diturunkan kepadanya. (QS al-Hasyr [59]:21).

Hati adalah cermin cahaya (nur) ilahi. Karena itu, wajar jika hati yang berkarat akan kembali memancarkan cahaya te rang apabila diasupi hidangan rabbani. Sebab, Alquran merupakan "jamuan spesial" Allah SWT (ma'dubatullah) bagi hamba-Nya. 

Jamuan kemuliaan ini tentu harus dinikmati dan dimaknai. Memaknai Alquran identik dengan membaca, memahami, menghayati, mengapresiasi, dan mengamalkan seruan berpikir rasional, pesan-pesan moral dan spiritualnya.

Dengan kata lain, agar hati tidak berkarat, mudarasah Al quran harus terus dilakukan dan dibudayakan; bukan sekadar mengaji (tilawah), membaca, dan mempelajari pesannya (qira'ah wa tadarus), melainkan memahami, menerjemahkan, dan mengaktualisasikan nilai-nilainya dalam ke hidupan nyata (mudarasah), sehingga spirit Alquran itu menjiwai dan menggelorakan kehidupan yang semakin jauh dari nilai-nilai kebenaran, kebaikan, keadilan, keindahan, dan kedamaian.

Mudarasah Alquran merupakan peneduh hati yang gersang dan penjinak watak "keras kepala dan keras hati". Sejarah membuktikan bahwa Umar bin al-Khattab yang sebelum masuk Islam dikenal berwatak keras kepala dan liar, hatinya luluh dan berubah 360 derajat setelah mendengar lantunan ayat-ayat Alquran yang dibacakan adik kandungnya yang telah masuk Islam, Fatimah binti al-Khattab.

Ayat yang didengarnya adalah QS Thaha ayat 2-4,"Kami tidak menurunkan Alquran ini kepadamu agar kamu men - jadi susah (sengsara), tetapi sebagai peringatan bagi orang- orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.

"Jika jujur berintrospeksi diri, tampaknya kita umat Islam belum banyak melakukan mudarasah Alquran. Kita masih jauh dari naungan Alquran. Kita belum bisa menikmati jamuan Allah yang diturunkan pada bulan yang suci ini. 


Boleh jadi, salah satu penyebab kemunduran, keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan yang mendera umat Islam saat ini adalah masih jauhnya kita dari naungan dan pangkuan Alquran. Padahal, menurut Sayyid Qutub dalam pengantar tafsir Fi Zhilal Alquran, hidup di bawah naungan Alquran itu nikmat. Wallahu a'lam bish-shawab!
____________________________________________________
Written by : H. Abdullah Najib

Kebahagiaan Semu

Hasil gambar untuk kebahagiaan  yang semu

Kebahagiaan yang Sekadar Pencitraan

Harga kebahagiaan itu murah. Jadikanlah Alquran dan hadis sebagai pedoman kehidupan. Pastikan setiap hari kita membacanya, memahami kandungannya, serta berikhtiar melaksanakannya agar menjadi Muslim yang kafah.

Dengarkan hati nurani, pemandu tindakan setiap hari. Cermin dalam diri yang selalu jujur atas setiap persoalan yang dihadapi. Seperti kisah Rasulullah SAW saat ditanya sahabat Wabishah, tentang menentukan kebaikan dan dosa, “…. Engkau datang untuk bertanya bagaimana membedakan antara kebajikan dan dosa.

" Wabishah pun menjawab, “Benar.” 
Beliau pun merapatkan jari-jarinya dan menempelkannya kepada Wabishah, seraya bersabda, “Mintalah pendapat pada hatimu, mintalah pendapat kepada jiwamu, wahai Wabishah. Sesuatu itu adalah kebaikan jika membuat hati tenteram, membuat jiwa tenteram sedangkan dosa membuat kegelisahan dalam hati dan kegoncangan dalam dada. Mintalah pendapat pada hatimu, mintalah pendapat kepada jiwamu meskipun orang-orang telah memberikan pendapat mereka kepadamu tentang hal itu.” (HR al-Darimi).

Peliharalah tingkat spiritualitas dengan ibadah vertikal yang terjaga. Giatlah beramal saleh yang berdampak luas bagi sesama. Dengan itu, hidup akan serasa bermakna. Ibadah ritual maupun sosial, sama-sama pentingnya karena kita hidup di dunia memiliki tugas sebagai hamba (‘abid) sekaligus khalifah, memakmurkan bumi.

Ikhlas, sabar, dan syukur selalu menghiasi setiap helaan napas. Sedih dan bahagia dianggap latihan, takdir-Nya diterima dengan penuh keridhaan. Menghormati sesama, santun, dan rendah hati. Penyakit hati, seperti iri, dengki, dan tinggi hati, dijauhi. Bahagia itu tak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. “.... Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS al-Baqarah [2]: 201).

Bahagia itu sederhana, hadiah terindah bagi makhluk terbaik. “Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS al-Bayyinah [98]: 7).

Hiduplah apa adanya. Jangan bebani dengan sifat ingin dihargai, dihormati, dan sifat riya lainnya. Alamiah sajalah, tanpa harus dikemas dalam bentuk pencitraan karena Tuhan tahu mana yang sungguh-sungguh dan tulus atau sebaliknya. “Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu, jika kamu orang-orang yang baik, sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.” (QS al-Isra [17]: 25).

Kebaikan tak pernah tertukarkan dengan kejahatan atau kebaikan yang sekadar pencitraan. “Katakanlah, 'Tidak sama yang buruk dengan yang baik meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu maka bertakwalah kepada Allah, hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.'" (QS al-Maidah [5]: 100).

Ibarat menabung untuk bekal kehidupan dan warisan, simpanlah sebanyak-banyaknya kebaikan. Khawatirlah bekal perjalanan panjang itu hanya sedikit, habis ketika tengah di perjalanan. Lupakanlah setiap kebaikan dan ingatlah selalu setiap kejahatan. Dengan melupakannya, kita akan berusaha untuk terus mengumpulkan investasi bekal abadi tersebut. Sementara, dengan mengingat dosa, lisan dan hati akan terus terjaga untuk memohon ampun kepada-Nya.

Kebaikan dan kejahatan yang kecil sekalipun, Allah SWT mengetahui dan akan menghitungnya dalam catatan amal. Kelak, akan ada pengadilan di mana itu semua akan dipertanggungjawabkan. “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula.” (QS az-Zalzalah [99]: 7-8).


Kebahagiaan sejati itu berarti surga. “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS ar-Ra’d [13]: 29). Wallahu ’alam.
________________________________________________________
Written by : H. Abdullah Najib

Nikmat Dunia

Hasil gambar untuk Nikmat Dunia

Batasi Nikmat Dunia

Dunia hanya tempat persinggahan singkat umat manusia sebelum menuju alam kubur dan menunggu hari pengadilan. Di alam kubur, kita akan tahu tempat yang akan diberikan kepada kita kelak pada saat hari kiamat tiba. 

Penantian di alam kubur ini yang sangat menyakitkan, sebab bergantung pada apa yang dilakukan di dunia. Pada saat di alam kubur, tak luput kemungkinan kuburan terasa sempit dan mendapatkan siksaan. Meski demikian, kita belum takut dengan tindakan kita yang menambah dosa.

Untuk mengingatkan akan kematian dan menambah kuatnya nilai iman maka sangat perlu mendatangi orang yang meninggal dan berziarah ke makam. Terkadang, ini yang tidak diketahui. 

Kerap kali, kuburan atau ziarah ke alam kubur dianggap sebatas berkunjung dan tidak menambah nilai iman. Ada juga yang menggunakan kuburan untuk mendapatkan rezeki, jodoh, dan lain sebagainya. Ada juga yang menganggap dengan datang ke kuburan justru mendapatkan wangsit pada malam harinya.

Ini perilaku zalim pada umat kita yang menyebabkan rendahnya nilai iman itu. Satu hal yang membuat manusia terus melupakan ibadah karena tidak bisa melawan nafsu sehingga berlebihan dalam mencintai dunia. 

Manusia yang mengejar dunia secara terus menerus tanpa memikirkan akhirat mengakibatkan manusia lupa dengan hidup yang begitu singkat ketika di dunia sehingga berakhirnya hidup di dunia, tetapi ibadah yang didapatkan sangat sedikit.

Bekal apa yang harus dibawa ketika kembali kepada Allah jika waktu itu terkuras untuk memenuhi nafsu perut saja, yaitu dunia. Padahal, dunia itu menipu kita, terlihat seperti manis, tetapi menyebabkan kita semua larut dalam dunia. 

Salah satu ciri manusia yang cinta dunia, yaitu manusia yang terus menumpuk hartanya menjadi lebih banyak lagi. Tidak pernah rasa puas dengan apa yang telah didapatkannya.

Apalagi, jalan yang ditempuh untuk mendapatkan dunia dengan jalan korupsi sehingga dapatlah harta yang bukan lagi haknya.
Dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari, dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda, “Celakalah orang yang mengabdi kepada dinar, orang yang mengabdi kepada dirham, dan orang yang mengabdi kepada perut. Jika diberi ia merasa puas dan seneng, jika tidak diberi ia merasa jengkel.

Dia benar-benar celaka dan terjungkir serta tidak mampu mencungkil duri yang menancap ditubuhnya (yakni selalu tersiksa batinnya). Sungguh beruntung orang yang memegang tali kudanya dalam berjihad di jalan Allah dengan rambutnya yang kusut dan tubuh berdebu. Apabila ia ditugaskan digaris depan ia menjalankan tugasnya dengan baik dan apabila ia ditugaskan di garis belakang, ia pun melaksanakan tugasnya dengan baik pula.

Apabila minta izin, ia tidak dizinkan dan apabila minta tambahan pasukan untuk menemaninya, permintaannya tidak dikabulkan (meskipun demikian ia tetap terus bertempur karena Allah)." 

Kemudian dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Anak adam itu akan menua, namun masih terasa muda dalam dua hal, yaitu keinginan terhadap usia (yang panjang) dan keinginan (banyak) harta. ( HR At Tirmidzi).

Hadis di atas memberikan makna, ibadah itu tetap utama dilakukan di atas segala-galanya, termasuk kehidupan dunia. Dalam beribadah juga tidak hitung-hitungan, apalagi menghitung berapa banyak yang harus dibayar dalam bentuk uang.

Hasil dari ini tidak lagi berkah hasilnya. Banyak di antara kita menjadi pejabat, tetapi bertujuan untuk mendapatkan dua hal, yaitu jabatan untuk mendapatkan uang. Buktinya, pejabat tidak akan mau jika tidak dibayar, tetapi anehnya sudah dibayar sebagai pejabat juga tidak amanah dalam menjalankan tugas. Wallahu a'lam.

 _____________________________________________________________
Written by : H. Abdullah Najib

Apa itu Itsar

Hasil gambar untuk kebaikan memberi

Keajaiban Itsar

Itsar adalah mengutamakan orang lain dalam perkara mubah meskipun kita membutuhkan. Itsar juga bisa berarti mencintai apa yang ada pada saudara kita sebagaimana kita mencintai hal tersebut ada pada diri kita. Menurut ulama, itsar adalah tingkatan ukhuwah dan mahabbah yang tertinggi.

Dalam kitab Samirul Mukminin karya Syekh Muhammad Al-Hajjar dikisahkan, dahulu pernah ada beberapa orang saleh yang berjumlah 30 orang bepergian bersama dalam sebuah safar.
Mereka memiliki roti yang jumlahnya terbatas dan tidak mencukupi semua. Lalu roti-roti itu dipotong-potong. Mereka bersepakat memadamkan lentera agar satu dan lainnya tidak saling melihat siapa yang tidak dapat bagian. 

Mereka kemudian duduk bersama untuk makan. Saat lentera kembali dinyalakan, ternyata roti masih utuh seperti semula tanpa seorang pun yang memakannya karena sifat itsar terhadap orang lain dibanding diri sendiri. Mereka tidak memakannya, khawatir rekannya yang lain tidak dapat bagian.

Itsar itu tandanya adalah memberi dan berbagi. Mencintai saudara kita adalah berani berbagi. Dengan alasan paling mendasar, kebaikan berbagi itu akan kembali kepada diri si pemberi.
Yaitu jika kita ingin melipatgandakan akumulasi kebaikan kita dan daftar amal yang banyak, itu tidak mungkin terjadi bila hanya melakukan kebaikan untuk diri sendiri. Sebab, kita hanya satu per orang.

Akumulasi kebaikan hanya bisa didapatkan bila kita membagi kebaikan kepada orang lain sebanyak mungkin. Pelipatgandaan ini bahkan melampaui batas-batas waktu dan tempat, apalagi jika kebaikan yang kita rintis menjadi cerita, bahkan bisa diadopsi dan ditiru orang lain.

Tidak termasuk itsar ketika kita masih mengurus kebutuhan kita dan keluarga kita serta menghitung-hitungnya dengan melupakan kebutuhan orang-orang terdekat kita. Kesibukan kita hanya untuk mencukupi isi dapur kita, tidak berpikir membantu memikirkan dapur tetangga apakah sudah mengepul atau belum. 

Rasulullah SAW menyindir keras perilaku tersebut. “Tidaklah beriman kepadaku orang yang bermalam dalam keadaan kenyang sementara tetangganya lapar, sedangkan dia mengetahuinya.” (HR. Hakim)

Sifat itsar akan bersemai dalam kepribadian kita jika dimulai dari rumah tangga kita masing-masing. Antara satu anggota keluarga dan yang lainnya saling mengutamakan, bukan ingin selalu diutamakan. Belajar untuk saling peduli akan kebutuhan masing-masing. 

Dikisahkan, dalam sebuah rumah kaum salaf terdapat seikat buah anggur milik salah seorang penghuni rumah itu. Dia lalu memberikan anggur itu kepada saudarinya. Saudari yang diberi itu memberikan lagi kepada saudarinya yang lain. Lalu saudarinya itu memberi ibunya. Ibunya menyembunyikan seikat anggur itu untuk dihidangkan kepada suaminya. 

Sang suami malah memberikannya kepada si anak yang pertama, pemilik dari seikat anggur itu. Demikianlah, seikat anggur itu beralih dari satu tangan ke tangan yang lain karena sifat itsar yang dimiliki satu keluarga tersebut.

Mencintai orang yang kita cintai adalah upaya kita memiliki jumlah kebaikan yang banyak dari kebaikan yang kita tanam untuk diri kita. Akumulasi kebaikan kita akan sangat terbatas bila itu hanya berupa kebaikan untuk diri kita sendiri.
Artinya, bila tidak memiliki tempat untuk meletakkan perbuatan baik, kita tidak akan memiliki pengali yang bisa memperbanyak jumlah perbuatan baik kita.

Nikmatnya ukhuwah dan mahabbah antarsesama merupakan karunia Allah SWT yang luar biasa. Kita patut bersyukur memiliki orang-orang yang kita cintai dan mereka pun mencintai kita. 

Rasa cinta itu sendiri tumbuh dengan caranya sendiri yang kadang tidak mudah kita mengerti. Hanya sifat itsar yang bisa mewakili kecintaan dan persaudaraan itu. Sebab, itsar merupakan bukti cinta dan persaudaraan yang tulus.

 _______________________________________________________
Written by : H.Abdullah Najib

Jangan Remehkan Orang Lain

Written By Unknown on Monday, March 23, 2015 | 3:48 PM

Hasil gambar untuk makan es krim
Jangan Pernah Meremehkan Orang Lain

Pada suatu hari, seorang anak masuk ke dalam rumah makan yang sangat terkenal dan mahal. Dia masuk seorang diri dan memakai pakaian biasa saja, tidak seperti anak-anak lain yang memakai pakaian yang bagus. Anak itu duduk di salah satu kursi lalu mengangkat tangannya untuk memanggil salah satu pelayan.

Seorang pelayan perempuan menghampiri anak kecil itu lalu memberikan buku menu makanan. Pelayan tersebut agak heran mengapa anak kecil itu berani masuk ke dalam rumah makan yang mahal, padahal dari penampilannya, pelayan itu tidak yakin bahwa sang anak kecil mampu membayar makanan yang ada.
“Berapa harga es krim yang diberi saus strawberry dan cokelat?” tanya sang anak kecil.
Sang pelayan menjawab, “Lima puluh ribu,”

Anak kecil itu memasukkan tangan ke dalam saku celana lalu mengambil beberapa receh dan menghitungnya. Lalu dia kembali bertanya, “Kalau es krim yang tidak diberi saus strawberry dan cokelat?”
Si pelayan mengerutkan kening, “Dua puluh ribu,”
Sekali lagi anak kecil itu mengambil receh dari dalam saku celananya lalu menghitung. “Kalau aku pesan separuh es krim tanpa saus strawberry dan cokelat berapa?”
Kesal dengan kelakuan pembeli kecil itu, pelayan menjawab dengan ketus, “Sepuluh ribu!”
Sang anak lalu tersenyum, “Baiklah aku pesan itu saja, terima kasih!”

Pelayan itu mencatat pesanan lalu menyerahkan pada bagian dapur lalu kembali membawa es krim pesanan. Anak itu tampak gembira dan menikmati es krim yang hanya separuh dengan suka cita. Dia melahap es krim sampai habis. Kemudian sang pelayan kembali datang memberikan nota pembayaran.

“Semua sepuluh ribu bukan?” tanya anak itu lalu membayar es krim pesanannya dengan setumpuk uang receh. Wajah sang pelayan tampak masam karena harus menghitung ulang receh-receh itu. Lalu sang anak mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari saku celana belakangnya, “dan ini tips untuk Anda!” ujar sang anak sambil menyerahkan selembar uang tersebut untuk si pelayan.

" Ada kalanya kita tidak melihat apa yang melekat pada tubuh seseorang saja sebagai penilaian. Bukan hal yang bagus untuk meremehkan seseorang karena melihat penilaian dari luar, Anda tidak akan pernah tahu pada beberapa waktu yang akan datang, seseorang yang Anda remehkan bisa jadi merupakan pengantar rejeki yang tak terduga. "
___________________________________________________________
Written by : Azang kecil


Kebahagiaan

Hasil gambar untuk kupu kupu
Mencari Kebahagiaan

Alkisah, ada seorang pemuda sedang duduk dengan tatapan kosong mengarah ke hamparan air telaga. Dia sudah berkelana mendatangi berbagai tempat, tapi belum ada yang membahagiakan dirinya. Tiba-tiba terdengar suara sengau memecah kesunyian.

“Sedang apa kau di sini, anak muda?” tanya seorang kakek yang tinggal di sekitar situ.
Anak muda itu menoleh sambil berkata. ”Aku lelah, Pak Tua. Aku sudah berjalan sejauh ini demi mencari kebahagiaan, tapi perasaan itu tak kunjung kudapatkan. Entahlah, ke mana lagi aku harus mencari…” keluh si anak muda dengan wajah muram.
“Di depan sana ada sebuah taman. Pergilah ke sana dan tangkaplah seekor kupu-kupu. Setelah itu aku akan menjawab pertanyaanmu,” kata si kakek. Meski merasa ragu, anak muda itu pergi juga ke arah yang ditunjuk. Tiba di sana, dia takjub melihat taman yang indah dengan pohon dan bunga yang bermekaran serta kupu-kupu yang beterbangan di sana.

Dari kejauhan di kakek melihat si pemuda mengendap-endap menuju sasarannya. Hap! Sasaran itu luput. Dikejarnya kupu-kupu ke arah lain. Hap! Lagi-lagi gagal. Dia berlari tak beraturan, menerjang rerumputan, tanaman bunga, semak. Tapi, tak satu pun kupu-kupu berhasil ditangkapnya.
Si kakek mendekat dan menghentikan si pemuda. ”Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Sibuk berlari ke sana kemari, menabrak tak tentu arah, bahkan menerobos tanpa peduli apa yang kamu rusak?”

Si kakek dengan tegas dan melanjutkan, ”Nak, mencari kebahagiaan layaknya menangkap kupu-kupu. Tidak perlu kau tangkap fisik kupu-kupu itu, biarkan dia memenuhi alam semesta ini sesuai fungsinya. Tangkaplah keindahan warna dan geraknya di pikiranmu dan simpan baik-baik di dalam hatimu.
Demikian pula dengan kebahagiaan. Kebahagiaan bukanlah benda yang dapat digenggam dan disimpan di suatu tempat. Ia tidak ke mana-mana, tapi ada dimana-mana. Peliharalah sebaik-baiknya, munculkan setiap saat dengan rasa syukur maka tanpa kau sadari kebahagiaan itu akan sering datang sendiri. Apakah kamu mengerti?”

Si pemuda terpana dan tiba-tiba wajahnya tampak senang. ”Terima kasih pak Tua. Sungguh pelajaran yang sangat berharga. Aku akan pulang dan membawa kebahagiaan ini di hatiku..”
Kakek itu mengangkat tangannya. Tak lama, seekor kupu-kupu hinggap di ujung jari dan mengepakkan sayapnya, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.

" Setiap manusia menginginkan kebahagiaan. Tetapi sering kali mereka begitu sibuk mencarinya, tanpa menyadari bahwa kebahagiaan sesungguhnya tidak kemana - mana tetapi justru ada di mana-mana. Kebahagiaan bisa hadir di setiap tempat, di semua rasa, dan tentunya setiap hati yang selalu mensyukuri. "
__________________________________________________________
Written by :  Azang kecil


Landak

Written By Unknown on Friday, March 20, 2015 | 4:00 PM

Hasil gambar untuk hewan landak
Filosofi Hewan Landak


Hari itu, adalah musim salju yang paling ekstrim di Kanada. Banyak binatang yang mati akibat rasa dingin yang teramat sangat.
Di suatu daerah, tinggal sekelompok landak. Mereka memutuskan untuk tinggal secara berkelompok di dalam sebuah gua, agar tetap hangat. Mereka mendekatkan diri satu sama lain. Namun ketika mulai berdekatan, duri-duri mereka melukai teman-teman terdekat mereka.

Setelah beberapa saat, mereka pun memutuskan untuk menjaga jarak satu sama lainnya. Akibatnya, mereka mulai merasakan dingin yang membeku, dan akhirnya terancam mati. Jadi mereka harus memutuskan: menerima duri-duri temannya, atau mati!
Secara bijaksana, mereka memutuskan untuk kembali bersatu. Mereka pun belajar untuk hidup dengan luka - luka kecil akibat jarak yang sangat dekat dengan sahaba - sahabatnya supaya dapat merasakan kehangatan. Cara inilah yang membuat mereka akhirnya selamat dan bisa bertahan hidup.

Pesan cerita ini:

Hubungan yang terbaik dalam hidup ini bukanlah hubungan yang membawa orang-orang yang sempurna dalam kelompok. Tetapi ketika semua individu belajar hidup dengan ketidaksempurnaan orang lain, serta mampu “mengapresiasi” semua kehangatan yang diberikan oleh teman-temannya.
Hal inilah yang membuat hidup kita menjadi lebih “ hidup ” (bermakna) & “mampu bertahan” dalam situasi atau lingkungan yang ekstrim sekalipun.


_____________________________________________
Written by : Azang kecil


Dendam Yang Berubah


Hasil gambar untuk gelas


SEORANG lelaki yang baru menikah tinggal menumpang di rumah mertuanya. Beberapa saat tinggal bersamanya, akhirnya ia demikian kesal dengan ibu mertuanya yang menurutnya sangat brengsek, cerewet, bawel, bossy, dan angkuh sekali.
Setelah dua tahun, baginya cukup sudah penderitaan itu. Ia memutuskan untuk mengakhiri dengan berencana membunuh ibu mertuanya. Setelah memutar otak, ia pergi mendatangi dukun yang paling sakti di daerahnya.
Usai bercerita dengan penuh kegeraman, sang dukun tersenyum dan mengangguk-angguk. Diberinya sebotol cairan yang menurut petunjuk dukun adalah racun yang sangat mematikan. Syaratnya harus diberikan sedikit demi sedikit selama 2 bulan, dan dalam memberikan ia diharuskan bersikap manis, berkata lebih sopan, serta selalu tersenyum. Hal ini untuk membuat si mertua supaya tidak mencurigainya. Dengan penuh kesabaran, hari demi hari ia mulai meracuni si mertua, tentunya dengan sikap manis, tutur kata yang lebih santun serta senyum yang tidak lepas dari mulutnya. Perlahan namun pasti ia mulai melihat perubahan pada mertuanya.
Ada satu hal yang membuatnya bingung, setelah satu bulan ia meracuni mertuanya, kelakuan mertua ini justru berubah menjadi demikian baik padanya. Sikapnya berubah 180 derajat dari sebelumnya, ia mulai menyapa lebih dahulu setiap kali ketemu. Pikirnya, ini pasti akibat awal dari racun itu, yakni adanya perubahan sikap sebelum akhirnya meninggal. Mendekati hari ke-40 sikap mertua semakin baik dan hubungan dengannya semakin manis, ia mulai membuatkan minum teh di pagi hari, menyediakan pisang goreng dan seterusnya. Sebuah perilaku mertua yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan terjadi.
Puncaknya pada hari ke-50 mertua memasakkan makanan yang paling ia sukai, bahkan di pagi harinya ia terkejut saat mendapati bajunya sudah dicuci bahkan diseterika oleh si mertua. Tak ayal lagi, hati kecilnya mulai memberontak. Muncullah rasa bersalah yang makin hari makin menguat. Pada hari ke-55, sudah tak terbendunglagi penyesalan itu, karena melihat perubahan si Ibu mertua yang menjadi sedemikian sayang padanya. Akhirnya pergilah ia ke dukun itu lagi, dengan terbata-bata penuh penyesalan dan rasa berdosa ia memohon-mohon untuk dibuatkan penangkal racun yang pernah diberikan sang dukun padanya.
Dengan senyum bijaksana bak malaikat, dukun itu berkata “Cairan yang kuberikan padamu dulu itu bukanlah racun, namun air biasa yang kuberi warna saja. Sikap mertuamu yang berubah menjadi sayang padamu, disebabkan karena  SIKAP DIRIMU YANG TERLEBIH DAHULU BERUBAH MENJADI LEBIH RAMAH, LEBIH SANTUN DAN SELALU SENYUM PADANYA.”
Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas. Pertama, sikap buruk/penolakan orang lain, hanyalah sebagai akibat/reaksi atas sikap buruk kita padanya. Kedua, kalau mau mengubah orang lain, kitalah yang berubah dahulu. Ketiga, tidak semua dukun salah. Kita juga harus jadi dukun kalau sukses belajar yakni ‘duduk dengan tekun’. Keempat: Selamat mencoba! 
SEORANG lelaki yang baru menikah tinggal menumpang di rumah mertuanya. Beberapa saat tinggal bersamanya, akhirnya ia demikian kesal dengan ibu mertuanya yang menurutnya sangat brengsek, cerewet, bawel, bossy, dan angkuh sekali.
Setelah dua tahun, baginya cukup sudah penderitaan itu. Ia memutuskan untuk mengakhiri dengan berencana membunuh ibu mertuanya. Setelah memutar otak, ia pergi mendatangi dukun yang paling sakti di daerahnya.
Usai bercerita dengan penuh kegeraman, sang dukun tersenyum dan mengangguk-angguk. Diberinya sebotol cairan yang menurut petunjuk dukun adalah racun yang sangat mematikan. Syaratnya harus diberikan sedikit demi sedikit selama 2 bulan, dan dalam memberikan ia diharuskan bersikap manis, berkata lebih sopan, serta selalu tersenyum. Hal ini untuk membuat si mertua supaya tidak mencurigainya. Dengan penuh kesabaran, hari demi hari ia mulai meracuni si mertua, tentunya dengan sikap manis, tutur kata yang lebih santun serta senyum yang tidak lepas dari mulutnya. Perlahan namun pasti ia mulai melihat perubahan pada mertuanya.
Ada satu hal yang membuatnya bingung, setelah satu bulan ia meracuni mertuanya, kelakuan mertua ini justru berubah menjadi demikian baik padanya. Sikapnya berubah 180 derajat dari sebelumnya, ia mulai menyapa lebih dahulu setiap kali ketemu. Pikirnya, ini pasti akibat awal dari racun itu, yakni adanya perubahan sikap sebelum akhirnya meninggal. Mendekati hari ke-40 sikap mertua semakin baik dan hubungan dengannya semakin manis, ia mulai membuatkan minum teh di pagi hari, menyediakan pisang goreng dan seterusnya. Sebuah perilaku mertua yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan terjadi.
Puncaknya pada hari ke-50 mertua memasakkan makanan yang paling ia sukai, bahkan di pagi harinya ia terkejut saat mendapati bajunya sudah dicuci bahkan diseterika oleh si mertua. Tak ayal lagi, hati kecilnya mulai memberontak. Muncullah rasa bersalah yang makin hari makin menguat. Pada hari ke-55, sudah tak terbendunglagi penyesalan itu, karena melihat perubahan si Ibu mertua yang menjadi sedemikian sayang padanya. Akhirnya pergilah ia ke dukun itu lagi, dengan terbata-bata penuh penyesalan dan rasa berdosa ia memohon-mohon untuk dibuatkan penangkal racun yang pernah diberikan sang dukun padanya.
Dengan senyum bijaksana bak malaikat, dukun itu berkata “Cairan yang kuberikan padamu dulu itu bukanlah racun, namun air biasa yang kuberi warna saja. Sikap mertuamu yang berubah menjadi sayang padamu, disebabkan karena  SIKAP DIRIMU YANG TERLEBIH DAHULU BERUBAH MENJADI LEBIH RAMAH, LEBIH SANTUN DAN SELALU SENYUM PADANYA.”
Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas. Pertama, sikap buruk/penolakan orang lain, hanyalah sebagai akibat/reaksi atas sikap buruk kita padanya. Kedua, kalau mau mengubah orang lain, kitalah yang berubah dahulu. Ketiga, tidak semua dukun salah. Kita juga harus jadi dukun kalau sukses belajar yakni ‘duduk dengan tekun’. Keempat: Selamat mencoba! 
____________________________________________________________
Written by : Azang kecil


 
Support : Privacy Policy | Disclaimer | Contact
Copyright © 2014. Kua Kecamatan Limpung - Batang - All Rights Reserved
Jl.Limpung-Tersono KM.01 telp (0285) 4486533 Batang 51271
KUA Limpung