PASTIKAN NIKAH ANDA TERCATAT DI KUA , NIKAH DI KUA GRATIS ... , NIKAH DILUAR KANTOR BAYAR Rp. 600.000,- ( DISETOR LANGSUNG KE BANK ) LAYANAN KUA GRATIS ( LEGALISIR, REKOMENDASI, IKRAR WAKAF, DUPLIKAT, KONSELING DAN BIMBINGAN KEAGAMAAN ) # SMS CENTER 081228249995 #

Berita Terbaru

Sejarah Penyelenggaraan Haji Di Indonesia

Written By Unknown on Tuesday, April 21, 2015 | 9:29 AM


Yang Tercatat Dari Sejarah Penyelenggaraan Haji Di Indonesia



Jakarta (Pinmas) —- Musim haji 1436H/2015M semakin dekat. Kementerian Agama melalui Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) terus melakukan persiapan untuk bisa meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah haji bagi jamaah Indonesia. Maklum, Undang-Undang No. 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji memberikan mandat kepada Pemerintah untuk melakukan tiga tugas sekaligus, yaitu: perlindungan, pembinaan, dan pelayanan kepada jamaah Indonesia di setiap musim penyelenggaraan ibadah haji.

Di tengah persiapan itu, untuk menyegarkan kembali ingatan masyarakat Indonesia, Tim Pengelola Informasi Haji Ditjen PHU Kementerian Agama menghimpun (dari berbagai sumber) catatan peristiwa bersejarah  terkait penyelenggaraan ibadah haji Indonesia yang  merentang panjang sejak akhir abad ke-19. Saat itu,  para jamaah haji Indonesia berada pada garda terdepan dalam perjuangan melawan penjajahan. 
Berikut beberapa peristiwa yang tercatat dari sejarah pelaksanaan ibadah haji di Indonesia:

1825 —- Karena besarnya keterlibatan para haji dalam melakukan perlawanan di nusantara pada akhir abad kesembilan belas, Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1825, 1827, 1831 dan 1859 mengeluarkan berbagai resolusi (ordonnatie) yang ditujukan untuk pembatasan ibadah haji dan memantau aktivitas mereka sekembalinya ke Tanah Air. (Yudi Latif, Indonesia, Muslim Intelligensia dan Kekuasaan).

1912 —- Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan mendirikan Bagian Penolong Haji yang diketuai oleh KH. M. Sudjak. Perintis munculnya Direktorat Urusan Haji.

1922 —- Volksraad (semacam dewan perwakilan rakyat Hindia-Belanda) mengadakan perubahan dalam ordonasi haji yang dikenal dengan Pilgrim Ordonasi 1922. Ordonasi ini menyebutkan bahwa bangsa pribumi dapat mengusahakan pengangkutan calon haji. Beberapa ordonasi dikeluarkan Volksraad, antara lain: Pilgrims Ordonnantie Staatsblad 1922 Nomor 698, Staatsblad 1927-Nomor 508,  Staatsblad 1931 Nomor 44 tentang Pass Perjalanan Haji, dan Staatsblad 1947 Nomor 50. (Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1960 Tentang Penyelenggaraan Urusan Haji).

1930 —- Kongres Muhammadiyah ke-17 di Minangkabau merekomendasikan untuk membangun pelayaran sendiri bagi jamaah haji Indonesia.

1947 —- Masyumi yang dipimpin oleh KH. Hasjim Asj’ari mengeluarkan fatwa dalam Maklumat Menteri Agama Nomor 4 Tahun 1947, yang menyatakan bahwa ibadah haji dihentikan selama dalam keadaan genting.

1948 —- Indonesia mengirimkan misi haji ke Makkah dan mendapat sambutan hangat dari Raja Arab Saudi. Tahun itu, Bendera Merah Putih pertama kali dikibarkan di Arafah.

1951 —- Keppres Nomor 53 Tahun 1951, menghentikan keterlibatan pihak swasta dalam penyelenggaraan ibadah haji dan mengambil alih seluruh penyelenggaraan haji oleh pemerintah.

1952 —- Dibentuk perusahaan pelayaran PT. Pelayaran Muslim sebagai satu-satunya Panitia Haji dan diberlakukan sistem quotum (kuota) serta pertama kali diberlakukan transportasi haji udara.

1959 —- Menteri Agama mengeluarkan SK Menteri Agama Nomor 3170 tanggal 6 Februari 1950 dan Surat Edaran Menteri Agama di Yogyakarta Nomor A.III/648 tanggal 9 Februari 1959 yang menyatakan bahwa satu-satunya badan yang ditunjuk secara resmi untuk menyelenggarakan perjalanan haji adalah Yayasan Penyelenggaraan Haji Indonesia (YPHI).

1960 —- Keluarnya perturan pertama tentang penyelenggaraan ibadah haji melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1960 Tentang Penyelenggaraan Urusan Haji. Terbentuk untuk yang pertama kalinya, Panitia Negara Urusan Haji (PANUHAD). Pada tahun 1962, PANUHAD berubah menjadi PPPH (Panitia Pemberangkatan dan Pemulngan Haji). PPPH dibubarkan pada tahun 1964 dan kewenangan penyelenggaraan haji diambil alih oleh pemerintah melalui Dirjen urusan Haji (DUHA).

1965 —- Dikeluarkan Kepres Nomor 122 Tahun 1964 tentang Penyelenggaraan Urusan Haji.  PT. Arafat pada tanggal 1 Desember 1964 yang bergerak di bidang pelayaran dan khusus melayani perjalanan haji (laut) hanya mampu memberangkatkan 15.000 jamaah melalui laut.

1969 —- Dikeluarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1969, Pemerintah  mengambil alih semua proses penyelenggaraan perjalanan haji. Hal ini disebabkan banyaknya calon jamaah haji yang gagal diberangkatkan oleh orang-orang atau badan-badan swasta, bahkan calon-calon yang mengadakan kegiatan usaha penyelenggaraan perjalanan haji.

1975 —- PT. Arafah mengalami kesulitan keuangan dan pada tahun 1976 gagal memberangkatkan haji karena pailit.

1979 —- Keputusan Menteri Perhubungan No. SK-72/OT.001/Phb-79, memutuskan untuk meniadakan pengangkutan jemaah haji dengan kapal laut dan menetapkan penyelenggaraan angkutan haji dilaksanakan dengan pesawat udara.

1985 —- Pemerintah kembali mengikutsertakan pihak swasta dalam penyelenggaraan haji.

1999 —- Ditetapkannya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji. Produk hukum berbentuk UU tentang haji yang pertama ini memandatkan tugas pelayanan, pembinaan, dan perlindungan bagi jamaah haji kepada Pemerintah. Kuota haji kemudian terbagi menjadi 2, yakni Haji Reguler dan Haji Khusus. Pendaftaran haji regular melalui Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu. Diberlakukan untuk pertama sekali setoran awal sebesar Rp 5.000.000 yang disimpan dalam tabungan atas nama jamaah haji.

2001 —- Setoran awal bagi jamaah haji regular naik menjadi Rp 20.000.000 yang disimpan dalam tabungan atas nama jamaah haji. Terbitnya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2001 Tentang Badan Pengelola Dana Abadi Umat sebagai salah satu mandat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1999.

2004 —- Setoran awal bagi jamaah haji reguler sebesar Rp 20.000.000 yang disimpan dalam rekening atas nama Menteri Agama.

2008 —- Penyempurnaan kembali Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1999 dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji. Pendaftaran dilakukan sepanjang tahun melalui SISKOHAT dengan prinsip first come first served.

2010 —- Setoran awal bagi jamaah haji reguler naik menjadi Rp 25.000.000 yang disimpan dalam rekening atas nama Menteri Agama.

2013 —- Beberapa peristiwa terjadi pada tahun ini, antara lain: peluncuran Siskohat generasi kedua, pemotongan kuota haji Indonesia sebesar 20% dari kuota dasar sebagai dampak proyek perluasan Masjidil Haram, migrasi Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji dari Bank Konvensional ke Bank Syariah/Unit Usaha Syariah.

2014 —- Ditetapkannya Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Haji yang salah satu mandatnya adalah membentuk Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) paling lambat September 2015. Selain itu, penggunaan  kuota jamaah haji dilakukan secara transparan dan akuntable sesuai dengan urutan porsi, pelayanan akomodasi setara hotel berbintang 3, upgrade bus shalawat yang beroperasion selama 24 jam untuk mengantar jamaah dari pemondokan ke Masjidil Haram, penghematan biaya operasional penyelenggaraan haji dengan tidak mengurangi layanan kepada jemaah haji, serta revitalisasi Asrama Haji.

2015 —- Implementasi total pelaksanaan pilot project e-hajj yang ditetapkan otoritas Arab Saudi, pengendalian daftar tunggu jamaah haji dengan memprioritaskan calon jemaah haji yang belum pernah melaksanakan ibadah haji dan menghimbau yang sudah berhaji untuk memberikan kesempatan kepada  yang belum pernah berhaji karena haji wajib hanya sekali seumur hidup, reformasi penyelenggaraan umrah, transformasi Asrama Haji menjadi Unit Pelaksanaan Teknis, keterbukaan sistem sewa pemondokan, transportasi, katering dan pendukung lainnya dengan tidak mengurangi layanan kepada jemaah haji. Selain itu, dilakukan penetapan Zona Integritas Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM). 

Pada tahun 2015 ini juga akan diterapkan  rute baru keberangkatan dan pemulangan jamaah haji. Gelombang I : Tanah Air –Madinah – Makkah – Jeddah – Tanah Air, Gelombang II : Tanah Air – Jeddah – Makkah – Madinah – Tanah Air. Pada tahun 2015 juga akan diberlakukan penyediaan makan siang bagi jamaah haji selama di Makkah dan pematangan gagasan  mempermanenkan pemondokan jamaah haji di Makkah. (Tim Pengelola Informasi Haji/mkd)


Makan Siang Bagi Jamaah Haji Selama di Makkah

Written By Unknown on Thursday, April 16, 2015 | 2:09 PM


Kemenag Siapkan Makan Siang Bagi Jamaah Selama di Makkah



Jakarta (Pinmas) —- Musim haji semakin dekat. Kementerian Agama terus melakukan upaya perbaikan dalam penyelenggaraan ibadah haji 1436H/2015M. Salah satu terobosan yang akan dilakukan pada musim haji tahun ini adalah menyediakan makan siang bagi jamaah haji Indonesia selama di Makkah.
“Tahun ini Kementerian Agama akan memberikan satu kali makan dalam sehari kepada jamaah haji Indonesia selama di Makkah,” kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin  dalam kesempatan berdiskusi di MNC Group, Rabu (15/04).

Selama ini, Kementerian Agama tidak menyiapkan makan siang bagi jamaah haji Indonesia karena mereka sudah dibekali living cost untuk biaya hidup selama berada di Makkah. “Selama ini tidak diberi makan. Tahun ini coba beri makan dan waktunya adalah makan siang,” tutur Menag.
Selain itu, di hadapan para pemimpin redaksi dan jurnalis MNC Group, Menag menjelaskan beberapa perbaikan penyelenggaraan ibadah haji, antara lain: pertama, rute penerbangan. Menurut Menag, ada perubahan yang cukup signifikan terkait rute penerbangan sehingga akan berpengaruh pada efisiensi Biaya Perjalanan Ibadah Haji. 

Dijelaskan Menag bahwa jamaah haji Indonesia terbagi dalam daua gelombang. Gelombang pertama selama ini mendarat di Jeddah, lalu melalui jalur darat menuju Madinah. Sementara gelombang kedua mendarat di Jeddah langsung ke Makkah, baru menuju Madinah. Pulangnya, gelombang pertama dari Makkah ke Jeddah lalu ke Tanah Air. Sedangkan gelombang kedua dari Madinah ke Jeddah untuk kembali ke Tanah Air.

“Sekarang gelombang pertama langsing ke Madinah sehingga efisiensi bisa dilaukan. Gelombang kedua dari Madinah bisa langsung ke Tanah Air,” jelas Menag. 
Kita sudah bertemu dengan sejumlah otoritas di Saudi dan mudah-mudahan tidak ada kendala,” imbuhnya
Perbaikan kedua di bidang  pemondokan. Menurut Menag, hotel yang selama ini disewa karena dekat dengan Masjidil Haram, sekarang semakim sedikit jumlahnya karena renovasi besar-besaran yang dilakukan Pemerintah Saudi. Akibatnya, beberapa hotel yang ada semakin menjauh. Ini tentu berimplikasi pada jamaah haji Indonesia. “Kita akan memfasilitasi bagi jamaah yang tinggal di atas 2km dengan menyiapkam bus salawat. Bus ini beroperasi selama 24 jam untuk memudahkan jamaah mengerjakan salat 5 waktu,” terang Menag. 

“Alhamdulillah banyak hotel yang baru. Sekarang dalam tahap proses. Beberapa sudah kontrak, yang lain dalam proses kontrak. Mudah-mudahan tidak ada kendala berarti,” tambahnya.
Menag juga mengatakan bahwa untuk pemondokan di Madinah, Kementerian Agama terus berupaya agar jamaah Indonesia tetap berada di wilayah markaziah dengan jarak di bawah 1km dari Masjid Nabawi. “Di Madinah, jamaah kita melakukan salat Arbain. Sehingga jarak menjadi penting,” ujarnya.

Menag juga mengaku sudah  bertemu dengan Menteri Haji serta Menteri Wakaf dan Urusan Agama Islam untuk meminta agar fasilitas di Arafah bisa ditingkatkam. “Saya tekankan, naif juga Saudi sebagai negara yang sangat kaya, sementara puncak haji adalah wukuf di Arafah, tapi fasilitasnya apa adanya. Saya minta agar seluruh tenda jamaah Indonesia bisa dilengkapi dengan AC, seperti di Mina. Karpetnya juga lebih baik, ” tegas Menag. 
“Alhamdulilah mereka memyanggupi, karena itu sepenuhnya kewenangan mereka,” tambahnya. 

Perbaikan lainnya adalah memasukan materi manasik ke dalam program yang berbasis Android sehingga mudah diakses melalui handphone. Materi ini juga dilengkapi dengan peta dan doa-doa yang disunnahkan dibaca saat Thawaf dan Sai sehingga jamaah cukup mendengar dan menirukan saja, tidak perlu membaca. (mkd/mkd)


Biaya Haji Indonesia Paling Murah Di ASEAN


Biaya Haji Indonesia Paling Murah Di ASEAN




Jakarta (Pinmas) —- Kementerian Agama saat ini  sedang membahas Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) Tahun 1436H/2015M dengan Panitia Kerja (Panja) DPR. Menag Lukman Hakim Saifuddin berharap BPIH ini sudah bisa disepakati bersama pada akhir April ini.
Meski demikian, Menag memastikan bahwa BPIH Indonesia adalah yang termurah di ASEAN. Hal ini ditegaskan Menag saat disinggung terkait adanya informasi bahwa biaya haji Indonesia lebih mahal dibanding negara tetangga dan fasilitasnya juga tidak lebih baik. 
“Saya menantang, tunjukan satu saja negara di ASEAN yang lebih murah (biaya hajinya) dari Indonesia,” tegas Menag saat berdiskusi dengan para jurnalis dan pemimpin redaksi MNC Group, Rabu (15/04)

Menurut Menag, biaya haji Malaysia berkisa USD 4.475. Singapura bahkan lebih mahal, mencapai USD6.100 – 6.200. Sementara Indonesia, rata-rata BPIH tahun lalu adalah USD 3.219. Sekarang bahkan oleh Menag dipastikan akan turun. “Kita berharap di bawah USD 3.000. Mudah-mudahan bisa dicapai,” jelas Menag. 

Soal fasilitas yang diberikan kepada jamaah, Menag menegaskan bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang memberikan living cost sekitar USD 400 kepada jamaah. “Tidak ada satupun negara yang menerapkan kebijakan itu,” kata Menag.
“Saya pikir tidak benar kalau kita itu mahal,” tandasnya. 

Ditanya kenapa di Mina masih ada sebagian jamaah Indonesia yang menempati tenda dengan jarak cukup jauh dari Jamarat, Menag menjelaskan bahwa penempatan itu yang  menentukan adalah muassasah. Menag mengaku sudah meminta kepada pihak muassasah  agar jamaah Indonesia bisa ditempatkan pada tenda yang lebih dekat dengan Jamarat. Namun demikian, lanjut Menag, mereka beralasan bahwa jamaah Indonesia sangat banyak sehingga tidak mungkin semuanya bisa ditempatka berdekatan. 

“Karena banyaknya, kita tidak bisa semuanya dekat. Tapi kita terus berupaya karena kita seharusnya punya posisi tawar yang lebih dibanding negara lain,” tutur Menag. (mkd/mkd)


Hati Berkarat

Written By Unknown on Thursday, April 9, 2015 | 2:30 PM

Hasil gambar untuk agar hati tak berkarat

Agar Hati tidak Berkarat

"Sesungguhnya, hati itu dapat berkarat sebagaimana besi berkarat. Rasulullah SAW lalu ditanya: Apa yang bisa membuat hati agar tidak berkarat? Rasul menjawab: Membaca Alquran dan mengingat kematian." (HR al-Baihaqi).

Ilustrasi dalam hadis tersebut menunjukkan bahwa hati manusia itu potensial menjadi seperti besi yang kemudian berubah menjadi berkarat. Sebelum berkarat, besi itu kuat, tapi ketika sudah berkarat, ia akan berubah menjadi rapuh.

Hati yang berkarat adalah hati yang berpenyakit atau sudah tidak sehat dan kuat. Agar hati tidak berkarat, Rasulullah SAW memberi solusi, yaitu membaca Alquran. Badiuzzaman Said Nursi dalam al-Mu'jizat al-Qur'aniyyah menjelaskan bahwa Alquran adalah Kalam Allah. 

Ia adalah kitab suci yang menebarkan hikmah yang turun dari lingkup nama-Nya yang paling agung. Ia menatap kepada apa yang diliputi Arasy yang paling agung. Jangankan hati yang berkarat! Bebatuan gunung yang kuat dan kokohpun dapat "takluk dan tunduk" kepada Alqur dan sekiranya diturunkan kepadanya. (QS al-Hasyr [59]:21).

Hati adalah cermin cahaya (nur) ilahi. Karena itu, wajar jika hati yang berkarat akan kembali memancarkan cahaya te rang apabila diasupi hidangan rabbani. Sebab, Alquran merupakan "jamuan spesial" Allah SWT (ma'dubatullah) bagi hamba-Nya. 

Jamuan kemuliaan ini tentu harus dinikmati dan dimaknai. Memaknai Alquran identik dengan membaca, memahami, menghayati, mengapresiasi, dan mengamalkan seruan berpikir rasional, pesan-pesan moral dan spiritualnya.

Dengan kata lain, agar hati tidak berkarat, mudarasah Al quran harus terus dilakukan dan dibudayakan; bukan sekadar mengaji (tilawah), membaca, dan mempelajari pesannya (qira'ah wa tadarus), melainkan memahami, menerjemahkan, dan mengaktualisasikan nilai-nilainya dalam ke hidupan nyata (mudarasah), sehingga spirit Alquran itu menjiwai dan menggelorakan kehidupan yang semakin jauh dari nilai-nilai kebenaran, kebaikan, keadilan, keindahan, dan kedamaian.

Mudarasah Alquran merupakan peneduh hati yang gersang dan penjinak watak "keras kepala dan keras hati". Sejarah membuktikan bahwa Umar bin al-Khattab yang sebelum masuk Islam dikenal berwatak keras kepala dan liar, hatinya luluh dan berubah 360 derajat setelah mendengar lantunan ayat-ayat Alquran yang dibacakan adik kandungnya yang telah masuk Islam, Fatimah binti al-Khattab.

Ayat yang didengarnya adalah QS Thaha ayat 2-4,"Kami tidak menurunkan Alquran ini kepadamu agar kamu men - jadi susah (sengsara), tetapi sebagai peringatan bagi orang- orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.

"Jika jujur berintrospeksi diri, tampaknya kita umat Islam belum banyak melakukan mudarasah Alquran. Kita masih jauh dari naungan Alquran. Kita belum bisa menikmati jamuan Allah yang diturunkan pada bulan yang suci ini. 


Boleh jadi, salah satu penyebab kemunduran, keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan yang mendera umat Islam saat ini adalah masih jauhnya kita dari naungan dan pangkuan Alquran. Padahal, menurut Sayyid Qutub dalam pengantar tafsir Fi Zhilal Alquran, hidup di bawah naungan Alquran itu nikmat. Wallahu a'lam bish-shawab!
____________________________________________________
Written by : H. Abdullah Najib

Kebahagiaan Semu

Hasil gambar untuk kebahagiaan  yang semu

Kebahagiaan yang Sekadar Pencitraan

Harga kebahagiaan itu murah. Jadikanlah Alquran dan hadis sebagai pedoman kehidupan. Pastikan setiap hari kita membacanya, memahami kandungannya, serta berikhtiar melaksanakannya agar menjadi Muslim yang kafah.

Dengarkan hati nurani, pemandu tindakan setiap hari. Cermin dalam diri yang selalu jujur atas setiap persoalan yang dihadapi. Seperti kisah Rasulullah SAW saat ditanya sahabat Wabishah, tentang menentukan kebaikan dan dosa, “…. Engkau datang untuk bertanya bagaimana membedakan antara kebajikan dan dosa.

" Wabishah pun menjawab, “Benar.” 
Beliau pun merapatkan jari-jarinya dan menempelkannya kepada Wabishah, seraya bersabda, “Mintalah pendapat pada hatimu, mintalah pendapat kepada jiwamu, wahai Wabishah. Sesuatu itu adalah kebaikan jika membuat hati tenteram, membuat jiwa tenteram sedangkan dosa membuat kegelisahan dalam hati dan kegoncangan dalam dada. Mintalah pendapat pada hatimu, mintalah pendapat kepada jiwamu meskipun orang-orang telah memberikan pendapat mereka kepadamu tentang hal itu.” (HR al-Darimi).

Peliharalah tingkat spiritualitas dengan ibadah vertikal yang terjaga. Giatlah beramal saleh yang berdampak luas bagi sesama. Dengan itu, hidup akan serasa bermakna. Ibadah ritual maupun sosial, sama-sama pentingnya karena kita hidup di dunia memiliki tugas sebagai hamba (‘abid) sekaligus khalifah, memakmurkan bumi.

Ikhlas, sabar, dan syukur selalu menghiasi setiap helaan napas. Sedih dan bahagia dianggap latihan, takdir-Nya diterima dengan penuh keridhaan. Menghormati sesama, santun, dan rendah hati. Penyakit hati, seperti iri, dengki, dan tinggi hati, dijauhi. Bahagia itu tak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. “.... Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS al-Baqarah [2]: 201).

Bahagia itu sederhana, hadiah terindah bagi makhluk terbaik. “Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS al-Bayyinah [98]: 7).

Hiduplah apa adanya. Jangan bebani dengan sifat ingin dihargai, dihormati, dan sifat riya lainnya. Alamiah sajalah, tanpa harus dikemas dalam bentuk pencitraan karena Tuhan tahu mana yang sungguh-sungguh dan tulus atau sebaliknya. “Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu, jika kamu orang-orang yang baik, sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.” (QS al-Isra [17]: 25).

Kebaikan tak pernah tertukarkan dengan kejahatan atau kebaikan yang sekadar pencitraan. “Katakanlah, 'Tidak sama yang buruk dengan yang baik meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu maka bertakwalah kepada Allah, hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.'" (QS al-Maidah [5]: 100).

Ibarat menabung untuk bekal kehidupan dan warisan, simpanlah sebanyak-banyaknya kebaikan. Khawatirlah bekal perjalanan panjang itu hanya sedikit, habis ketika tengah di perjalanan. Lupakanlah setiap kebaikan dan ingatlah selalu setiap kejahatan. Dengan melupakannya, kita akan berusaha untuk terus mengumpulkan investasi bekal abadi tersebut. Sementara, dengan mengingat dosa, lisan dan hati akan terus terjaga untuk memohon ampun kepada-Nya.

Kebaikan dan kejahatan yang kecil sekalipun, Allah SWT mengetahui dan akan menghitungnya dalam catatan amal. Kelak, akan ada pengadilan di mana itu semua akan dipertanggungjawabkan. “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula.” (QS az-Zalzalah [99]: 7-8).


Kebahagiaan sejati itu berarti surga. “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS ar-Ra’d [13]: 29). Wallahu ’alam.
________________________________________________________
Written by : H. Abdullah Najib

Nikmat Dunia

Hasil gambar untuk Nikmat Dunia

Batasi Nikmat Dunia

Dunia hanya tempat persinggahan singkat umat manusia sebelum menuju alam kubur dan menunggu hari pengadilan. Di alam kubur, kita akan tahu tempat yang akan diberikan kepada kita kelak pada saat hari kiamat tiba. 

Penantian di alam kubur ini yang sangat menyakitkan, sebab bergantung pada apa yang dilakukan di dunia. Pada saat di alam kubur, tak luput kemungkinan kuburan terasa sempit dan mendapatkan siksaan. Meski demikian, kita belum takut dengan tindakan kita yang menambah dosa.

Untuk mengingatkan akan kematian dan menambah kuatnya nilai iman maka sangat perlu mendatangi orang yang meninggal dan berziarah ke makam. Terkadang, ini yang tidak diketahui. 

Kerap kali, kuburan atau ziarah ke alam kubur dianggap sebatas berkunjung dan tidak menambah nilai iman. Ada juga yang menggunakan kuburan untuk mendapatkan rezeki, jodoh, dan lain sebagainya. Ada juga yang menganggap dengan datang ke kuburan justru mendapatkan wangsit pada malam harinya.

Ini perilaku zalim pada umat kita yang menyebabkan rendahnya nilai iman itu. Satu hal yang membuat manusia terus melupakan ibadah karena tidak bisa melawan nafsu sehingga berlebihan dalam mencintai dunia. 

Manusia yang mengejar dunia secara terus menerus tanpa memikirkan akhirat mengakibatkan manusia lupa dengan hidup yang begitu singkat ketika di dunia sehingga berakhirnya hidup di dunia, tetapi ibadah yang didapatkan sangat sedikit.

Bekal apa yang harus dibawa ketika kembali kepada Allah jika waktu itu terkuras untuk memenuhi nafsu perut saja, yaitu dunia. Padahal, dunia itu menipu kita, terlihat seperti manis, tetapi menyebabkan kita semua larut dalam dunia. 

Salah satu ciri manusia yang cinta dunia, yaitu manusia yang terus menumpuk hartanya menjadi lebih banyak lagi. Tidak pernah rasa puas dengan apa yang telah didapatkannya.

Apalagi, jalan yang ditempuh untuk mendapatkan dunia dengan jalan korupsi sehingga dapatlah harta yang bukan lagi haknya.
Dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari, dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda, “Celakalah orang yang mengabdi kepada dinar, orang yang mengabdi kepada dirham, dan orang yang mengabdi kepada perut. Jika diberi ia merasa puas dan seneng, jika tidak diberi ia merasa jengkel.

Dia benar-benar celaka dan terjungkir serta tidak mampu mencungkil duri yang menancap ditubuhnya (yakni selalu tersiksa batinnya). Sungguh beruntung orang yang memegang tali kudanya dalam berjihad di jalan Allah dengan rambutnya yang kusut dan tubuh berdebu. Apabila ia ditugaskan digaris depan ia menjalankan tugasnya dengan baik dan apabila ia ditugaskan di garis belakang, ia pun melaksanakan tugasnya dengan baik pula.

Apabila minta izin, ia tidak dizinkan dan apabila minta tambahan pasukan untuk menemaninya, permintaannya tidak dikabulkan (meskipun demikian ia tetap terus bertempur karena Allah)." 

Kemudian dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Anak adam itu akan menua, namun masih terasa muda dalam dua hal, yaitu keinginan terhadap usia (yang panjang) dan keinginan (banyak) harta. ( HR At Tirmidzi).

Hadis di atas memberikan makna, ibadah itu tetap utama dilakukan di atas segala-galanya, termasuk kehidupan dunia. Dalam beribadah juga tidak hitung-hitungan, apalagi menghitung berapa banyak yang harus dibayar dalam bentuk uang.

Hasil dari ini tidak lagi berkah hasilnya. Banyak di antara kita menjadi pejabat, tetapi bertujuan untuk mendapatkan dua hal, yaitu jabatan untuk mendapatkan uang. Buktinya, pejabat tidak akan mau jika tidak dibayar, tetapi anehnya sudah dibayar sebagai pejabat juga tidak amanah dalam menjalankan tugas. Wallahu a'lam.

 _____________________________________________________________
Written by : H. Abdullah Najib

Apa itu Itsar

Hasil gambar untuk kebaikan memberi

Keajaiban Itsar

Itsar adalah mengutamakan orang lain dalam perkara mubah meskipun kita membutuhkan. Itsar juga bisa berarti mencintai apa yang ada pada saudara kita sebagaimana kita mencintai hal tersebut ada pada diri kita. Menurut ulama, itsar adalah tingkatan ukhuwah dan mahabbah yang tertinggi.

Dalam kitab Samirul Mukminin karya Syekh Muhammad Al-Hajjar dikisahkan, dahulu pernah ada beberapa orang saleh yang berjumlah 30 orang bepergian bersama dalam sebuah safar.
Mereka memiliki roti yang jumlahnya terbatas dan tidak mencukupi semua. Lalu roti-roti itu dipotong-potong. Mereka bersepakat memadamkan lentera agar satu dan lainnya tidak saling melihat siapa yang tidak dapat bagian. 

Mereka kemudian duduk bersama untuk makan. Saat lentera kembali dinyalakan, ternyata roti masih utuh seperti semula tanpa seorang pun yang memakannya karena sifat itsar terhadap orang lain dibanding diri sendiri. Mereka tidak memakannya, khawatir rekannya yang lain tidak dapat bagian.

Itsar itu tandanya adalah memberi dan berbagi. Mencintai saudara kita adalah berani berbagi. Dengan alasan paling mendasar, kebaikan berbagi itu akan kembali kepada diri si pemberi.
Yaitu jika kita ingin melipatgandakan akumulasi kebaikan kita dan daftar amal yang banyak, itu tidak mungkin terjadi bila hanya melakukan kebaikan untuk diri sendiri. Sebab, kita hanya satu per orang.

Akumulasi kebaikan hanya bisa didapatkan bila kita membagi kebaikan kepada orang lain sebanyak mungkin. Pelipatgandaan ini bahkan melampaui batas-batas waktu dan tempat, apalagi jika kebaikan yang kita rintis menjadi cerita, bahkan bisa diadopsi dan ditiru orang lain.

Tidak termasuk itsar ketika kita masih mengurus kebutuhan kita dan keluarga kita serta menghitung-hitungnya dengan melupakan kebutuhan orang-orang terdekat kita. Kesibukan kita hanya untuk mencukupi isi dapur kita, tidak berpikir membantu memikirkan dapur tetangga apakah sudah mengepul atau belum. 

Rasulullah SAW menyindir keras perilaku tersebut. “Tidaklah beriman kepadaku orang yang bermalam dalam keadaan kenyang sementara tetangganya lapar, sedangkan dia mengetahuinya.” (HR. Hakim)

Sifat itsar akan bersemai dalam kepribadian kita jika dimulai dari rumah tangga kita masing-masing. Antara satu anggota keluarga dan yang lainnya saling mengutamakan, bukan ingin selalu diutamakan. Belajar untuk saling peduli akan kebutuhan masing-masing. 

Dikisahkan, dalam sebuah rumah kaum salaf terdapat seikat buah anggur milik salah seorang penghuni rumah itu. Dia lalu memberikan anggur itu kepada saudarinya. Saudari yang diberi itu memberikan lagi kepada saudarinya yang lain. Lalu saudarinya itu memberi ibunya. Ibunya menyembunyikan seikat anggur itu untuk dihidangkan kepada suaminya. 

Sang suami malah memberikannya kepada si anak yang pertama, pemilik dari seikat anggur itu. Demikianlah, seikat anggur itu beralih dari satu tangan ke tangan yang lain karena sifat itsar yang dimiliki satu keluarga tersebut.

Mencintai orang yang kita cintai adalah upaya kita memiliki jumlah kebaikan yang banyak dari kebaikan yang kita tanam untuk diri kita. Akumulasi kebaikan kita akan sangat terbatas bila itu hanya berupa kebaikan untuk diri kita sendiri.
Artinya, bila tidak memiliki tempat untuk meletakkan perbuatan baik, kita tidak akan memiliki pengali yang bisa memperbanyak jumlah perbuatan baik kita.

Nikmatnya ukhuwah dan mahabbah antarsesama merupakan karunia Allah SWT yang luar biasa. Kita patut bersyukur memiliki orang-orang yang kita cintai dan mereka pun mencintai kita. 

Rasa cinta itu sendiri tumbuh dengan caranya sendiri yang kadang tidak mudah kita mengerti. Hanya sifat itsar yang bisa mewakili kecintaan dan persaudaraan itu. Sebab, itsar merupakan bukti cinta dan persaudaraan yang tulus.

 _______________________________________________________
Written by : H.Abdullah Najib

Program Asesmen Kompetensi di lingkungan Kemenag

Written By Unknown on Monday, April 6, 2015 | 9:17 AM

Sekjen: Asesmen untuk Pastikan TKD, TKB, dan Rekam Jejak Calon Pejabat


Jakarta (Pinmas) —- Sekjen Kementerian Agama Nur Syam telah melaunching pelaksanaan program asesmen kompetensi di lingkungan Kementerian Agama, Selasa (31/03) lalu. Hal ini ditandai dengan  penyerahan dokumen utama asesmen kompetensi dari Sekjen kepada para pejabat Eselon I Kemenag atau yang mewakili. 

“Sesungguhnya kebutuhan mengenai assesmen ini sangat penting dan mendasar di Kemenag untuk menihilkan tuduhan yang mendiskreditkan Kemenag terkait dengan proses rekruitmen pejabat,” kata Nur Syam saat ditemui di ruang kerjanya, Jakarta, Kamis (02/04)
Menurut Nur Syam, proses asesmen ini untuk memastikan hasil tes kemampuan dasar (TKD), tes kemampuan bidang, dan rekam jejak calon pejabat Kementerian Agama.  Dalam implementasinya, pelaksanaan rekruitmen, penempatan, mutasi, atau rotasi jabatan, kata Nur Syam akan menggunakan prinsip-prinsip yang sudah disepakati sesuai dengan aturan yang dibuat Menpan dan RB. 
“Dalam proses asesmen, ada serangkaian tes yang harus diikuti: yaitu: tes kemampuan dasar (TKD) dan tes kemampuan bidang (TKB). Selain itu akan dicek juga dari aspek rekam jejaknya seperti apa,” jelasnya. 

“Jadi tidak cukup dengan TKD dan TKB saja, tetapi juga rekam jejaknya seperti apa. Sehingga ketika seseorang sudah ditempatkan pada jabatan tertentu, maka tidak ada catatan-catatan yang melemahkan terhadap keputusan yang diambil,” tambahnya.
Ditambahkan Nur Syam, proses asesmen akan dilakukan oleh sebuah tim yang terbagi menjadi dua: internal (55%) dan eksternal (45%). Tim internal terdiri dari tim setjen, unit eselon I terkait, dan pihak lain yang relevan. Sedangkan tim eksternal terdiri dari Kemenpan dan RB, serta kementerian lain yang terkait.
“Kalau tim itu 5 orang, maka 3 dari dalam, 2 dari luar.  Kalau 7 berarti 4 dalam dan 3 luar. Itu sudah menjadi semacam aturan yang dibakukan oleh Kemenpan,” jelasnya.
Disinggung mengenai Baperjakat, Sekjen mengatakan bahwa Baperjakat akan menjadi palang pintu terakhir untuk menyatakan bahwa seseorang layak atau tidak layak. “Baperjakat semacam palang pintu terakhir untuk menyatakan bahwa ini layak atau tidak layak, setelah ada pertimbangan-pertimbangan dari tim asesmen,” terangnya.

“Jadi tidak hanya TKD, TKB, tapi dimensi rekam jejak menjadi penting. Itu semua akan menjadi dasar apakah yang bersangkutan layak atau tidak layak menduduki jabatan tertentu,” imbuhnya. (mkd/mkd)


Tindak Tegas Oknum KUA yang Bandel !

Written By Unknown on Friday, March 27, 2015 | 2:36 PM

M. Jasin: Bulan Juni, Kami Akan Tindak Tegas Oknum KUA yang Bandel!


Jakarta, bimasislam.
Kementerian Agama RI semakin serius dalam menanggapi hasil survey integritas sektor public yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap Unit Layanan Pencatatan Nikah di KUA (PMA 46 Tahun 2014). Keseriusan tersebut ditunjukan dengan peningkatan mutu layanan KUA kecamatan melalui penerbitan berbagai macam aturan. Peraturan yang diterbitkan diharapkan dapat menghilangkan praktik gratifikasi yang dilakukan oleh oknum Kepala KUA/Penghulu.

Berdasarkan pantauan dan tinjauan langsung di lapangan masih ditemukan banyaknya pelanggaran yang terjadi di KUA. Hal itu berdasar pada laporan masyarakat yang diterima oleh tim administrasi pengelola layanan pengaduan KUA. Masih banyak aduan masyarakat terkait pungutan yang dilakukan oleh Kepala KUA / Penghulu diluar tarif nikah yang sudah ditentukan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2014. Demikian dikatakan oleh Kabag Ortala Ditjen Bimas Islam di ruang kerjanya (23/3).

Dalam sambutannya, Inspektur Jenderal Kementerian Agama RI, Moch. Jasin saat rapat koordinasi permasalahan KUA dan Madrasah di Ruang Rapat Sekretaris Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI (19/3) menyatakan bahwa Kementrian agama akan mensosialisasikan terkait dengan aturan-aturan gratifikasi yang berkaitan dengan layanan KUA mulai bulan April sampai dengan akhir Mei. Pada bulan juni akan dilakukan penindakan dengan sangsi yang tegas terhadap oknum nakal yang masih melakukan praktik gratifikasi.

“Pada bulan April-Mei kami akan terjun ke lapangan, dan pada bulan berikutnya Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI akan melakukan penindakan bagi oknum KUA yang bandel. Kami akan bersinergi dengan seluruh aparat penegak hukum, baik dari Kejaksaan, Kepolisian dan KPK untuk turun tangan melakukan penindakan”, tegasnya.

“Jika masih juga ditemukan ada oknum Kepala KUA / Penghulu yang masih nakal terancam dipidanakan, baik menerima praktik gratifikasi maupun pungutan liar”, tutupnya. (fehmi/foto:bimasislam

Matematika Kehidupan

Hasil gambar untuk matematika kehidupan

Matematika Kehidupan

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ مَنْ تَوَكَّلَ عَلَيْهِ بِصِدْقِ نِيَّةٍ كَفَاهُ وَمَنْ تَوَسَّلَ إِلَيْهِ بِاتِّبَاعِ شَرِيْعَتِهِ قَرَّبَهُ وَأَدْنَاهُ وَمَنِ اسْتَنْصَرَهُ عَلَى أَعْدَائِهِ وَحَسَدَتِهِ نَصَرَهُ وَتَوَلاَّهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ حَافَظَ دِيْنَهُ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ
Jamaah jum’at rahimakumullah…
Tidak henti-hentinya, kami mengajak pada Jamaah sekalian untuk memanjatkan puji syukur yang tiada terhingga kepada Allah SWT, karena Allahlah telah yang memberi kita karunia dan nikmat yang sangat besar. Karunia dan nikmat itu ialah umur yang panjang, kesehatan, dan kesempatan yang lapang sehingga kita semua bisa hadir di sini untuk mendirikan shalat Jumat berjamaah. Karena ada saudara – saudara kita yang juga diberikan Karunia dan nikmat umur yang panjang, kesehatan, tapi tidak ada kesempatan hadir di sini untuk mendirikan shalat Jumat .
 Oleh sebab itu , sebagai salah satu bentuk rasa syukur kita terhadap semua nikmat Allah ini tidak bosan-bosannya pula, khatib menyerukan agar tidak ada jemaah yang sampai tertidur atau berbicara satu sama lainnya ketika khutbah Jumat sedang dibacakan, hal ini agar kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran lain yang bermanfaat. Rasa kantuk memang merupakan fitrah sebagaimana juga rasa lapar dan dahaga namun seyogyanya semua bentuk kefitrahan ini tidak menjadi penghalang kita dari mendengarkan firman-firman Allah yang akan disampaikan.

Jamaah umat rahimakumullah…
Tidak terasa, baru kemarin saja rasanya  kita melaksanakan sholat jum’ah disini, sekarang kita melaksanakan lagi. Rasa – rasanya waktu begitu cepat berlalu. Jika dalam 1 hari ada 24 jam, maka 7 hari berarti sama dengan 168 jam atau 10.080 menit sudah kita lewati. Subhanallah. Selama masa waktu itu, hal positif apa yang sudah kita lakukan dan hal negatif apa saja yang sudah kita perbuat? Mari kita tanya pada diri kita masing - masing, dalam tempo 7 hari tersebut, manakah yang paling sering kita lakukan, kebaikankah? Atau justru keburukan?
Sekali lagi kita tanya diri kita dan biarkan hati kita yang menjawabnya: benarkah dalam 7 hari yang lalu kita selalu ada dalam keimanan? Konsistenkah kita dalam melakukan keimanan yang sering kita sebut -sebut di mulut kita dan kita pamer - pamerkan pada orang lain itu selama 7 hari yang lalu? Biarkan hati kecil kita yang menjawabnya, berapa kali kita meninggalkan shalat Subuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib ataupun Isya?
Berapa kali dalam waktu 7 hari yang sudah kita lewati itu, kita melakukan shalat dengan rasa malas dan terpaksa? Berapa kali pula dalam waktu 7 hari itu, kita salah dalam membaca tajwid dalam shalat -  shalat kita karena terburu-buru?  Berapa kali  pula dalam waktu 7 hari itu, kita membaca bacaan sholat dengan tartil, tenang dan dihayati?
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah,
itu baru sedikit saja dari sekian banyak pertanyaan yang bisa digali , dalam rangka muhasabah/ introspeksi diri kita untuk 7 hari yang baru saja kita lalui.
Belum lagi mengenai amal shalih, amal shalih apa yang sudah kita perbuat selama seminggu  itu? Benarkah amal shalih atau cuma minta dianggap shaleh atau justru amal sayyiah alias amal buruk saja yang kita perbuat sepanjang 7 hari tersebut?
Bagaimana dengan waktu yang sudah kita habiskan 1 bulan, 1 tahun sebelumnya? Apa saja yang kita perbuat selama tahun – tahun  yang  lalu?

Jamaah jum’at rahimakumullah…
Dalam 1 tahun ada 12 bulan, 52 minggu, 365 hari, 8.760 jam, 525.600 menit dan 31.536.000 detik. Ada berapa banyakkah  total kebaikan yang kita berbuat , selama kurun waktu tersebut?
Rata - rata umur manusia saat ini antara 60 s/d 70 tahun, Jikapun ada yang lebih dari itu maka merupakan suatu bonus umur dari Allah.  Sekarang kita samakan saja rata - rata umur manusia di usia 65 tahun.
Kita mulai baligh, yaitu awal dari seorang anak manusia mulai di perhitungkan amal baik atau buruknya selama hidup umumnya bagi laki-laki  adalah 15 tahun dan wanita 12 tahun.
Sekarang, mari kita mencari waktu yang ada atau tersisa bagi kita untuk beribadah pada Allah. Kita gunakan saja rumus sederhana : Umur rata - rata manusia – Awal Baligh
Jika rata-rata umur seseorang pada usia 65 tahun dikurang 15 tahun saat awal kita baligh maka waktu yang tersisa adalah 50 tahun. Apa dan bagaimana perilaku kita selama 50 tahun masa hidup itu?
Jika kita kalikan lagi angka 50 tahun dengan 365 hari/ tahunnya maka diperoleh angka 18.250 hari. Nah angka 18.250 hari ini dikurang dengan waktu tidur kita selama 8 jam/ hari anggap saja begitu. Maka 18.250 hari dikali dengan 8 jam = 146.000 jam atau sekitar 16 tahun lebih 7 bulan atau kita bulatkan menjadi 17 tahun.
Jadi dalam rentang waktu kita mulai baligh di usia 15 tahun sampai usia kita meninggal di 65 tahun, ada waktu 17 tahun yang hanya digunakan untuk tidur saja. Angka ini belum ditambah dengan jumlah jam yang sering kita pakai pula untuk tidur siang misalnya. Subhanallah.
Dalam 50 tahun waktu hidup kita pasca baligh yang habis dipakai aktivitas adalah 18.250 hari x 12 jam (yaitu waktu di mana siang hari biasanya kita kerja, sekolah, kuliah, berdagang, memasak dan sebagainya) maka diperoleh angka 219.000 Jam atau = 25 tahun
Belum lagi dikurangi dengan waktu kita yang biasanya digunakan untuk bersantai, istirahat sambil menonton televisi, bercanda sesama teman dan sejenisnya  plus minus 4 jam.
Maka total dalam 50 tahun waktu yang dipakai untuk santai - santai tadi adalah 18.250 hari x 4 jam= 73.000 Jam atau selama  8 tahun.

Alhasil, jamaah Jumat sekalian, selama 50 tahun masa hidup kita pasca baligh, ada angka 17 tahun lamanya kita tidur  + 25 tahun untuk beraktivitas di siang hari + 8 tahun untuk sekedar rileksasi / santai - santai dan mencari hiburan,  diperolehlah angka 50 tahun.
Jadi umur kita 50 tahun setelah dipotong masa baligh impas saja. Lalu jika usia 50 tahun ini tidak diisi dengan banyak hal yang positif, hal-hal yang bersifat ibadah pada Allah, maka manusia benar-benar berada dalam kerugian yang sangat besar seperti firman Allah di dalam surat Al-Ashr.

وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Allah bersumpah Demi waktu, sesungguhnya, manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran(Al-Ashr: 1-3)

Jamaah jum’at rahimakumullah…
Subhanallah,  ternyata firman Allah bisa dibuktikan secara matematika dan Sangat ilmiah sekali.
Tidak salah sebenarnya ketika kita berargumen bahwa kita saat ini sedang sekolah dan mencari ilmu, bukankah itu juga ibadah? Tidak salah pula ketika ada yang berkata kita bekerja untuk menafkahi anak istri dan ini pun ibadah. Dan argumen-argumen lain sejenis itu.
Tapi sekarang, apakah benar niat kita ketika sekolah / tholabul ilmi, bekerja, mengajar dan melakukan berbagai profesi lainnya itu sudah diniatkan untuk ibadah ?
Bukankah kita sendiri sering berkata: saya sekolah / tholabul ilmi agar pintar, dapat ijazah dengan angka yang bagus, lalu saya bisa bekerja dan dapat posisi bagus pula di perusahaan tertentu, Nikah punya anak cucu. Bukankah niat seperti ini yang justru sering terlintas dalam pikiran kita?
Mana niat ibadahnya? Makanya, tidak usah heran bila sekarang ini banyak terjadi korupsi / penyalahgunaan wewenang di mana-mana, penggunaan narkoba oleh siapa saja serta hal-hal buruk lainnya. Tontonan jadi tuntunan dan tuntunan jadi tontonan. Niat kita sudah bukan pada titik ibadah lagi. Kita sekolah untuk dapat ijazah, kita bekerja untuk mencari harta, kita mempunyai  jabatan untuk dipandang orang lain, kita memakai kendaraan agar dihormati oleh orang lain dan bahkan kita shalat, zakat serta berhaji pun agar dianggap orang hebat dan alim.
Na’udzubillahi mindzalik.

Jamaah Jumat rahimakumullah..
Mari kita jujur pada diri kita sendiri, seberapa seringkah kita membaca bismillah saat hendak berangkat kerja / beraktifitas, berjalan menuju sekolah atau pasar?
Jawabnya secara umum pasti kita pernah membaca basmalah di waktu-waktu tersebut, tapi sesekali, tidak setiap kali. Itulah fenomena diri kita sendiri yang selalu dipengaruhi oleh unsur fujuraha, yaitu sifat jahat yang sering mendominasi hidup kita sehari-hari. Sewaktu mendengar ceramah atau khutbah, air mata kita berlinang, tetapi ketika kaki kita melangkah keluar dari tempat ceramah itu, kita silau dengan gemerlapnya dunia.
Maka jangan heran bila musibah  sering melanda negeri kita,. Jangan heran banyak doa-doa kita yang tidak terkabulkan. Jangan heran bila semakin banyak para penyesat bermunculan. Ternyata kita sendiri ikut menjadi penyebabnya. Kita sering lalai dalam menggunakan waktu yang ada.
Seringkali kita merasa cukup dengan hanya mengerjakan shalat 5 waktu, kita beranggapan dengan mengerjakan shalat - shalat tersebut maka pahala kita bertumpuk. Pernahkah kita berpikir bahwa shalat yang sudah kita kerjakan pasti diterima di sisi Allah?  Pernahkah kita berpikir bagaimana bila shalat -shalat kita selama ini tidak satupun yang diterima-Nya?
Sekali lagi, sudah berapa kalikah kita shalat secara terburu - buru sehingga tidak jelas apa yang dibaca? Berapa seringkah kita shalat diakhir waktu?  Padahal diawal waktu panggilan Allah lewat adzan selalu memanggil kita . Berapa seringkah kita shalat dengan rasa malas, ujub ataupun terpaksa ?

Jamaah Jumat rahimakumullah..
Karena itu, marilah kita semua tanpa kecuali menghitung diri ( bermuhasabah ). Sudah seberapa taatkah kita kepada Allah? Apakah kita selama ini telah mentati aturan - aturan Allah? Ataukah sebaliknya kita gemar menerjang larangan - larangan-Nya?
Marilah kita semua kembali kepada Allah, bertaubat kepada-Nya. Marilah kita sesali segala perbuatan buruk yang selama ini kita lakukan, dan kita berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Jangan sampai kita malah berbuat sebaliknya, yakni melakukan kesalahan demi kesalahan tanpa henti, seolah-olah tidak peka dengan peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Diakhir khutbah ini , marilah kita memohon kepada Allah, semoga Allah selalu membimbing kita dalam jalan yang diridho’i sebagaimana jalannya orang – orang yang sholeh.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .
___________________________________________________
Written by : H. Abdullah Najib
 
Support : Privacy Policy | Disclaimer | Contact
Copyright © 2014. Kua Kecamatan Limpung - Batang - All Rights Reserved
Jl.Limpung-Tersono KM.01 telp (0285) 4486533 Batang 51271
KUA Limpung